Dibanderol Rp95 juta, Esemka Bima cocok untuk UKM

Jum'at, 6 September 2019 | 18:52 WIB ET

BOYOLALI, kabarbisnis.com: PT Solo Manufaktur Kreasi atau Esemka resmi meluncurkan mobil pikap Mobil Esemka Bima 1,2L dan 1,3L bersamaan dengan peresmian pabrik perakitan yang dihadiri langsung Presiden RI Joko Widodo di Boyolali, Jawa Tengah.

Bima menjadi mobil pertama Esemka yang dijual ke pasar dari 12 model yang sudah lolos uji di Kementerian Perhubungan.

Pada produk perdananya, Esemka tidak mau kalah bersaing dengan kompetitor yang lebih dulu menggarap pasar pikap seperti Suzuki dan Daihatsu. Sebagai pendatang baru, Esemka tidak mau gegabah dan wajib memiliki kelebihan dibandingkan pesaingnya yang kini menguasai pasar.

Salah satu keunggulan yang diharapkan bisa mendongkrak penjualan adalah soal harga. "Dijual dengan harga Rp 95 juta off the road," kata Presiden Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi, Eddy Wirajaya di sela peresmian, Jumat (6/9/2019).

Kompetitornya Suzuki Carry Pick Up dijual mulai dari Rp135,6 juta untuk tipe FD, Rp144 juta untuk tope FD AC/PS, Rp 136.6 juta untuk tipe WD, dan Rp145. jutaan untuk tipe WD AC/PS. Adapun Daihatsu Gran Max dijual dalam berbagai varian mulai dari Rp 132 jutaan hingga Rp 144 jutaan

Tak hanya itu, Mobil yang dipopulerkan Jokowi saat menjabat Wali Kota Solo ini juga memiliki kelebihan lain yaitu dengan kabin yang lega serta ruang kargo yang luas. Produk ini diklaim cocok untuk lebih banyak memuat barang. Soal mesin pun, siap mengimbangi beban yang diangkutnya.

Pikap Esemka Bima diklaim hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan angkutan niaga yang berkualitas. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berharap dengan harga kompetitif tersebut diharapkan mampu membawa banyak perubahan bagi perekonomian daerah. "Informasinya, kandungan lokal untuk model yang akan diluncurkan ini sudah 60 persen. Sudah pakai komponen lokal," ujarnya.

Budi menilai kendaraan niaga ringan merupakan kendaraan multi fungsi yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan di daerah maupun perkotaan kecil. Ia juga menyoroti bahwa meski kendaraan niaga ringan tapi di daerah-daerah biasanya juga dimanfaatkan untuk kendaraan penumpang seperti angkutan kota dan sebagainya. "Jadi peluangnya terbuka lebar," tukasnya.

Sementara itu Ketua Umum Komite Nasional Dewan UKM Indonesia, Irwan Wijaya HS mengatakan bahwa harga terjangkau dengan varian model yang memiliki daya angkut banyak seperti Esemka Bima dinilai sesuai dengan keingininan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia.

"Kami sudah melakukan survey ke anggota (UKM) di seluruh Indonesia. Dari inventarisasi yang kami lakukan hingga saat ini potensinya mencapai 13 ribu unit. "Itu asumsi berdasarkan perhitungan kami hingga pertengahan tahun depan," kata Irwan.

Menurut Irwan, survey yang dilakukan internal termasuk memetakan kemampuan atau daya beli calon konsumen. "Jadi kami sekaligus mengukur kemampuan calon konsumen nanti jika membeli Esemka Bima. Jenis usaha apa dan bagaimana mereka mengangsurnya," ujarnya.

"Kami melihat kebutuhan di sektor UKM ini beragam, mulai dari untuk angkutan pedesaan (barang) hingga diubah menjadi mobil toko. Bisa juga nanti bergeser untuk angkutan desa (penumpang)." imbuhnya.

Untuk mengoptimalkan pasar di sektor UKM, Irwan menyebut Dewan UKM akan membantu pelaku UKM untuk membeli Esemka Bima melalui skema pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan. kbc10

Bagikan artikel ini: