Sultra incar jadi lumbung beras di Indonesia Timur

Jum'at, 6 September 2019 | 19:02 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Produksi pangan khususnya beras (padi)  provinsi Sulawesi Tenggara, terus meningkat signifikan setiap tahunnya sejak dilaksanakannya program Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Pajale (Upsus Pajale) pada 2015.

Demikian diungkapkan Pj. Upsus Pajale Provinsi Sultra Dr. Priatna Sasmita  dalam keterangan tertulis, Jumat (6/9/2019) saat Rakor Upsus Pajale di Kendari. 

Rakor ini dihadiri Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra, Korem 143 Ho,  Kepala BPS,  Kepala BMKG, Kepala BPN, Kepala BPTP Sultra, Kepala Balai Karantina Sultra, Penanggung Jawab Upsus dan LO Kabupaten, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten dan Kota se provinsi Sultra, para Kepala Pertanian Kecamatan, dan para petugas data.

Rakor ini digelar sebagai upaya percepatan realisasi luas tambah tanam Pajale periode Oktober-September 2018/19, dan  penetapan target tanam Oktober-September 2019/2020. Sasmita menjelaskan upaya kenaikan luas tambah tanam  dibarengi dengan kenaikan provitas sangat penting dalam upaya mempertahankan Sultra sebagai provinsi surplus beras sekaligus berkontribusi dalam menuju Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan yang diwakili Kabid Tanaman Pangan, Ir. Suryati Raeba MP, mengklaim realisasi  luas tanam padi di Sultra terus meningkat sejak dilaksanakannya program Upsus  Pajale di Sultra. “Pada periode Oktober - September 2015/16 dilaporkan capaian luas tanam padi seluas 177.179 ha, dan pada periode yang sama tahun 2017/2018 mencapai 189.909 ha, dan pada tahun 2018/2019 diprediksi dapat merealisasikan luas tambah tanam padi seluas 192.317 ha. Dengan capaian luas tanam tersebut Sultra dipastikan surplus beras yang setiap tahunnya lebih dari 100.000 ton," urainya.

Priatna Sasmita juga menjelaskan pengamanan produksi padi provinsi Sultra perlu terus digiatkan antara lain melalui percepatan tanam (agar IP, Indek Pertanaman meningkat), optimalisasi lahan, cetak lahan baru, penerapan teknologi  budidaya, panen dan pasca panen serta pemanfaatan alsin dalam upaya percepatan, efisiensi dan perbaikan kualitas hasil. “Upaya ini terus dilakukan oleh Kementerian Pertanian bersama Pemerintahan Daerah dengan berbagai program termasuk bantuan sarana dan prasarana," lanjutnya. 

Ia juga menekankan pentingnya menumbuhkan kemandirian penyediaan benih di tingkat petani, dengan memberikan pendampingan dan pembelajaran secara langsung kepada petani mengenai teknologi produksi benih secara sederhana, sehingga mereka bisa mendapatkan benih dari pertanaman mereka secara berkelanjutan. 

“Yang perlu difasilitasi adalah bagaimana petani dapat mengakses benih sumber baru setelah menanam 2 – 3 kali varietas yang sama. Dengan demikian petani dapat mandiri dalam penyediaan benih, sehingga tidak tergantung lagi dari bantuan pemerintah," tambahnya.

Pada Rakor ini, Komandan Korem 143 Ho yang diwakili oleh Kaster Letkol Inf. Edward menyampaikan pentingnya menjaga stabilitas pangan, dengan mengutif pernyataan Sukarno Presiden RI pertama bahwa “Pangan Merupakan Hidup dan Matinya suatu Bangsa”.Karena itu menjaga kedaulatan pangan sama dengan menjaga kedaulatan bangsa. Peran TNI dalam mendukung UPSUS di laksanakan melalui pencetakan areal sawah baru, monitoring luas tambah tanam (LTT) maupun pelaksanaan program SERGAB (Serap Gabah Petani).

Pada rakor ini juga disampaikan model pengukuran produksi pertanian oleh Kepala BPS Sultra dengan menggunakan sistem Kerangka Sampel Area, yang merupakan suatu model pengukuran berbasis teknologi digital, sehingga data luas dan produksi pertanian dapat tersedia secara cepat dan tepat. Pada bagian lain dari rakor ini juga turut memberikan penyampaian adalah kepala BMKG Kendari Aris Yunatas, SP. 

Dalam pemaparannya disebutkan bahwa musim kemarau tahun 2019 untuk wilayah Sultra pada umumnya mulai terjadi pada bulan Juni – Juli, dan awal musim hujan untuk tahun 2019/2020 adalah pada bulan November – Desember, dengan puncak musim hujan terjadi pada bulan januari  dan Mei. Dengan adanya prakiraan musim ini diharapkan pemerintah khususnya kementerian pertaian dapat merencakan pola produksi pangan yang lebih bersahabata dengan iklim.

Pada akhir rapat koordinasi ini disepakati Luas tambah tanam periode Oktober 2019 - September 2020 padi sawah sebesar 200.904 ha, jagung sebesar 58.157 ha dan kedelai sebeluas 2.829 ha. Kesepakatan ini ditandatangani oleh masing-masing Kepala Dinas Pertanian Kab/Kota se-Sultra, Dandim, Kepala Dinas Pertanian Prov. Sultra dan  PJ. UPSUS Sultra dalam hal ini Kepala BB Penelitian Padi.kbc11

Bagikan artikel ini: