Teknik budidaya dan panen yang benar, kunci produktivitas kopi

Minggu, 8 September 2019 | 15:03 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ada tiga jenis kopi di Indonesia yang dibudidayakan dan dipasarkan, yaitu kopi Robusta, Arabika dan Exselsa. Sebesar 85% pasar dalam negeri dikuasai oleh kopi Robusta. Sedangkan untuk pasar luar negeri dikuasai oleh kopi arabika yaitu sebesar 75%. Berbeda dengan dua jenis kopi tersebut, kopi Exselsa baru menguasai pasar dalam negeri sebesar 1% saja.

Dalam budidaya kopi pemilihan klon, pembibitan, pemeliharaan hingga tehnik panen yang baik dan benar menjadi  point penting untuk keberlangsungan produktivitas tanaman kopi. Demikian yang disampaikan Prof. Dr. Ir Rubiyo, M.Si (Peneliti Utama di BBP2TP, Bogor) dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu ( 8/9/2019) dalam acara Bimbingan Teknis (Bimtek) budidaya dan pengembangan kopi yang dilaksanakan di Kelompok Tani Jongkok Praktiyasa, Desa Belatungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan-Bali.

Bimtek yang diselenggarakan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali ini dalam rangka peningkatan kapasitas Sumber  Daya Manusia (SDM) petani kopi, dan untuk mempercepat hilirisasi teknologi yang dihasilkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Kepala BPTP Bali Dr I Made Rai Yasa menuturkan pihaknya mengundang Profesor Riset Badan Litbang Pertanian sebagai narasumber agar permasalahan yang dihadapi petani dalam hal budidaya kopi bisa teratasi. Dikatakan lebih lanjut  Bimtek Budidaya kopi yang dilaksanakan diikuti juga oleh Penyuluh BPTP Bali dan PPL yang mewilayahi Desa Belatungan. "Dari Bimtek ini diharapkan juga mampu meningkatkan kompetensi Penyuluh BPTP Bali dan Penyuluh di Daerah dalam membina petani di lapangan" jelasnya.

Tidak hanya itu, terkait program dan kebijakan dibidang perkebunan khususnya komoditas kopi, BPTP Bali juga mengundang Bapelitbang dan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan untuk menghadiri acara Bimtek.

Dewa Ketut Budidana Susila selaku Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, mengatakan bahwa saat ini produksi kopi robusta di Kecamatan Tabanan tergolong masih rendah, yaitu rata-rata 400 kg/hektar/tahun. "Kami sangat mendukung program Bimtek ini, dan kami yakin dengan budidaya yang baik produksi kopi di sini dalam dua sanpai tiga tahun mendatang akan meningkat," ujarnya.

Lebih lanjut Susila mengatakan akan terus bekerjasama dengan BPTP Bali dalam membina petani kopi di Kabupaten Tabanan dengan melaksanakan Bimtek terpadu . Dirinya berharap BPTP Bali siap dengan narasumber dan inovasinya pada setiap Bimtek yang akan diaksanakan.

I Made Artana, MT Kepala Bidang Pembangunan Manusia dan Masyarakat (PPM)  Badan Perencanaan dan Penelitian Pembangunan (Bapelitbang) Tabanan menuturkan peningkatkan pendapatan dan nilai tukar petani merupakan PR yang cukup berat dan pekerjaan itu menurutnya tidak pernah selesai. Terlebih-lebih petani dengan beragam komoditas dan luas lahan serta sekala usaha yang tergolong kecil. "Petani sangat membutuhkan pendampingan dalam hal teknologi budidaya, pengolahan pasca panen, fasilitas pasar dan kelembagaan usaha agar mampu memenuhi kebutuhan pasar," jelasnya.

Selain itu I Made Artana juga menyampaikan apresiasi dan terimakasihnya kepada BPTP Bali yang selalu siap mendampingi petani. " Sejak lama BPTP Bali menjadi Mitra kami dalam melakukan berbagai inovasi program pertanian di Kabupaten Tabanan," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: