Wow, produktivitas jagung Nakula Sadewa 29 ungguli jagung multinasional

Senin, 9 September 2019 | 12:45 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Produktivitas jagung hibrida Nakula Sadewa 29 atau yang sering disebut NASA 29 lebih unggul dibandingkan dengan varietas komersial multinasional yang ditanam pada musim kemarau di Nganjuk. Hal ini dibuktikan dari hasil demplot NASA 29 pada lahan seluas 4 ha yg dilakukan CV Megatani sebagai mitra lisensi Balitbangtan, Kementerian Pertanian bersama dengan kelompok tani Gemah Ripa di Desa Joho, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk.

Selain Nasa 29, mereka juga menanam beberapa varietas multinasional yang terpopuler saat ini di kalangan petani jagung di Kabupaten Nganjuk. Produktivitas Varietas NASA 29 di lokasi tersebut sebesar 9,4 ton/ha sedangkan varietas jagung komersial multinasional lainnya pada lahan dan perlakuan yang sama hanya sebesar 8,0 – 8,3 ton/ha.

'Meskipun varietas unggul hasil penelitian anak bangsa tersebut baru pertama kali ditanam di Kabupaten Nganjuk, namun hasilnya tergolong tinggi, karena provitas rata-rata jagung di Jawa Timur hanya 5,1 ton/ha" ujar Kepala Puslitbangtan Haris Syahbuddin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin ( 9/9/2019).

Produktivitas varietas tersebut belum optimal karena ditanam pada musim kemarau yang berkepanjangan sehingga mengalami kekurangan air. Berbeda halnya jika ditanam pada lingkungan optimal, hasil panennya bisa lebih tinggi, diatas 10 ton/ha, sebagaimana yang telah dicapai pada beberapa lokasi, baik di Jawa, maupun di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali dan Nusa Tenggara.

Menurutnya, varietas jagung NASA 29 merupakan salah satu varietas unggul dari 35 varietas jagung unggul Balitbangtan.Varietas ini sudah banyak diminati petani karena produktivitasnya tinggi, warna biji menarik yaitu oranye dan mengkilap, tongkolnya panjang  dengan susunan biji yang rapat.

Selain itu rendemennya tinggi, mudah dipanen dan dirontokkan karena kelobotnya tipis dan jenggel yang keras yang menyebabkan biji mudah terlepas dari tongkol sehingga sangat cocok diprosesing dengan mesin, meskipun pada kondisi kering panen.Ditambahkan lingkungan yang sesuai, terutama pada dataran menengah dan tinggi, potensi tongkol kembarnya juga semakin tinggi.

Bupati nganjuk memberikan apresiasi yang tinggi atas kehadiran si Kembar Nakula Sadewa 29 di daerahnya karena terbukti mampu meningkatkan produktivitas jagung petani. Bupati berharap agar varietas ini dapat berkembang secara meluas di Kabupaten Nganjuk.

Dirjen Tanaman Pangan Suwandi  mengatakan guna meningkatkan produktivitas jagung nasional, penggunaan varietas unggul provitas tinggi merupakan faktor penentu dan salah satu di antaranya adalah NASA 29, hasil karya pemulia Balitbangtan, seraya memperkenalkan Kepala Balitsereal sekaligus Pemulia Utama NASA 29 yang hadir pada acara panen raya tersebut. 

Menurutnya biaya produksi per ha pada tanaman  jagung yang dipanen saat ini sebesar 15 juta per ha. Dengan menggunakan efisensi input, biayanya bisa ditekan menjadi Rp. 9 juta per ha. Usahatani jagung ini cukup menjanjikan, perputarannya bisa mencapai Rp 1 triliun.

Hitungannya adalah jika biaya produksi saat ini 15 juta/ha dengan provitas 9 ton per hektar biaya produksi sebesar Rp 1.600/kg, dan dengan harga jualnya Rp 3.800/ha, keuntungannya sebesar Rp 2.200/kg. Namun jika input dapat ditekan, keuntungan petani bisa sebesar Rp. 2.800/kg. 

Suwandi juga menambahkan selain benih, pemanfaatan pupuk organik dan pestisida hayati/nabati dapat meningkatkatkan efisiensi Input. Balitbangtan sudah banyak menghasilkan teknologi pembuatan pupuk organik dan pestisida nabati/hayati. Para petani bisa belajar Kepada BPTP Jatim, sambil memperkenalkan Kepala BPTP yang hadir pada kesempatan tersebut.

Dengan efisiensi input, produksi menjadi lebih murah sehingga meskipun harga turun, petani masih tetap mendapatkan keuntungan. kbc11

Bagikan artikel ini: