Ketika model pertanian bio industri di Desa Antapan curi perhatian 56 negara

Selasa, 10 September 2019 | 18:16 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Antapan merupakan nama sebuah desa yang terletak di lembah bukit Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Pada salah satu sudut Desa Antapan terdapat sebuah model pertanian ramah lingkungan, yang dibangun Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali.

Usaha keras petani sejak tahun 2015 didampingi BPTP Bali kini berbuah manis. Sebuah model pertanian ramah lingkungan yang disebut dengan Model Pertanian Bio Industri kini terlihat wujudnya. Sejauh mata memandang tanaman tampak indah dan tertata rapi.

Di sudut-sudut lahan petani terdapat embung penampung air yang menjadi sumber kehidupan bagi tanaman dan ternak petani. Menurut I Nyoman Adijaya selaku penanggungjawab kegiatan ini, jumlah embung yang dibangun telah mencapai 87 unit yang tersebar di lahan petani.

Model Pertanian Bio Industri di Desa Antapan akan dijadikan lokasi field trip para Peserta Council Meeting Global Risearch Aliance (GRA) ke-9 yang rencananya dilaksanakan pada 6 Oktober 2019. Sebuah kebanggaan petani setempat mendapat kesempatan mewakili Indonesia menunjukkan yang terbaik kepada dunia.

Menurut Special Representative GRA, Mr. Hayden Montgomery, yang dikutip dari media resmi Balitbangtan, Global Research Alliance merupakan organisasi Internasional yang memberi keuntungan bagi negara anggotanya terkait pemanfaatan hasil penelitian dan saling bekerjasama dalam penelitian. Saat ini negara-negara yang tergabung GRA sudah mencapai 56 negara.

Dr. Yiyi Sulaeman panitia GRA dari Balitbangtan saat kunjungannya ke lokasi field trip pada Sabtu (6/9/2019) mengatakan, Model Pertanian Bio industri di Tabanan dijadikan lokasi field trip karena dianggap mewakili contoh sebuah model pertanian yang telah menunjukkan upaya penurunan emisi karbon dengan meningkatkan penyerapan karbon.

“Dengan mengubah lahan yang tadinya kekeringan dan sulit untuk bercocok tanam menjadi lahan subur yang bisa ditanami sepanjang tahun sudah termasuk usaha menurunkan emisi karbon,” jelas Yiyi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (10/9/2019).

Sementara itu kepala BPTP Bali Dr. I Made Rai Yasa ditemui di tempat kerjanya mengatakan dirinya merasa bangga Model Pertanian Bio Industri dijadikan lokasi field trip. “Tentunya kami bersama petani akan tunjukkan yang terbaik kepada peserta field trip. Ini menyangkut citra positif pertanian Bali dan Indonesia di mata dunia,” ujarnya.

Selain positif dari aspek lingkungan, lanjutnya, kegiatan model Pertanian Bio Industri di Desa Antapan terbukti secara secara ekonomi mampu meningkatkan pendapatan petani sebanyak 152%, yaitu dari Rp 2.057.670 pada 2015 menjadi Rp 5.190.648 pada awal 2018.

I Wayan Widana Kelompok tani Setia Makmur, mengaku sejak dibangunnya Model Pertanian Bio Industri, dirinya bersama anggota kelompok lainya selalu mengikuti arahan dari BPTP Bali. “Dulu kami di sini sulit berusaha tani apalagi musim kemarau. Sejak dibina BPTP Bali dan bantuan dari pemerintah daerah, kami bisa berusaha tani sepanjang tahun. Inovasi-inovasi yang dibawa BPTP Bali sudah sangat berkembang dengan baik di sini,” jelasnya.

I Wayan Widana yang sebelumnya seorang pegawai hotel di kawasan Kuta Bali ini mengaku bahwa Model pertanian Bio Industri selama ini sering dipakai lokasi field trip. “Dari kunjungan-kunjungan itu, kami juga mendapatkan tambahan penghasilan dengan memberikan pelayanan serta dari menjual hasil pertanian dari kelompok tani kami,” akunya.kbc11

Bagikan artikel ini: