Siap-siap! Inflasi merangkak dan rokok ilegal marak akibat kenaikan cukai

Minggu, 15 September 2019 | 09:32 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai keberlangsungan industri hasil tembakau bergantung pada regulasi atau aturan yang tepat. Jika tidak tepat, industri akan kalah dengan mekanisme pasar.

Peneliti Senior Indef Enny Sri Hartati mengatakan, Indonesia memiliki beragam jenis rokok dan untuk mengakomodir keragaman jenisnya. Aturan PMK Nomor156 Tahun 2018 dinilai sangat tepat, sebab, ada 10 golongan rokok yang dipertahankan.

"PMK tersebut layak untuk dipertahankan. Keragaman jenis rokok tadi juga berkaitan dengan serapan tembakau dalam negeri," ujar Enny, dalam keterangannya, Sabtu (14/9/2019).

Namun, rencana pemerintah yang akan menggabungkan tiga jenis rokok, yaitu Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) atau simplifikasi cukai rokok, dinilai kurang tepat.

Menurutnya, rencana simplifikasi harus mengakomodir keinginan pembuat regulasi dan para pelaku industri rokok. Termasuk di dalam pengakomodasian itu adalah besaran tarif cukai.

Dia menilai, rokok memang harus dikendalikan, namun kenaikan cukai harus penuh perhitungan karena rokok menyumbang inflasi. "Apabila kenailan cukai berlebihan, justru akan makin sulit mengendalikan karena konsumen akan lari ke rokok ilegal," kata Enny. kbc10

Bagikan artikel ini: