Tren penggunaan teknologi robot di Indonesia mulai melonjak

Selasa, 17 September 2019 | 13:11 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Sebagai negara yang telah mencanangkan program revolusi industri 4.0 pada tahun lalu, tren penggunaan teknologi robot dalam proses produksi industri  di Indonesia kian menanjak. Jika pada tahun 2017, serapan robot di Indonesia hanya sekitar 950 unit per tahun, maka pada tahun 2018 melonjak menjadi 1200 unit robot per tahun.

"Artinya ada kenaikan sebesar 20 persen. Ini menjadi pertanda bahwa implementasi robot di Indonesia sudah bisa dimulai," tegas Head of Robotics & Discrete Automation ABB Indonesia, Mugi Harfianza di sela acara Indonesia's Leading of Industrial 4.0 (INDI 4.0) di Surabaya, Selasa (17/9/2019).

Di Indonesia, industri terbesar yang telah menerapkan teknologi robot adalah industri makanan  dan minuman. Hal ini berbeda dengan di negara lain, dimana industri otomotif dan elektronika justru menjadi pengguna terbesar teknologi ini. "Kita lihat industri otomotif dalam dua, tiga tahun belakangan pertumbuhannya datar, sehingga penyerapan robotnya tidak terlihat signifikan," tambahnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa penerapan teknologi robot di dunia industri memang sangat diperlukan. Hal ini guna peningkatan produksi dan daya saing produk yang dihasilkan. Dan untuk merealisasikannya, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk sumber daya manusia yang bisa mengoperasikan, standarisasi proses industri, dan keinginan untuk percepatan produksi.

Dan dalam hal ini, Indonesia masih jauh dibanding sejumlah negara tetangga, dengan Vietnam dan Thailand misalnya. Di Vietnam, tingkat penyerapan robot sudah mencapai 3.000 unit per tahun, sementara Thailand mencapai 4.000 unit robot per tahun. Apalagi jika dibanding dengan Korea, Singapura, Jerman, Amerika dan Tiongkok yang penyerapannya jauh lebih besar. 

"Ini menjadi PR kita bersama, apakah Indonesia akan mengerem penerapan teknologi robot padahal hal itu sangat berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan kompetitifnes," tekannya. 

Untuk itu, ABB Indonesia, perusahaan teknologi terdepan dunia, terus berkomitmen mendukung roadmap Pemerintah dalam "Making Indonesia 4.0" dengan menghadirkan serangkaian teknologi digital lintas industri berupa solusi smart sensor, digital power train serta robot YuMI.

“Kami berkomitmen untuk menjadi bagian dari transformasi digital ekonomi Indonesia. Baik itu mengenai efisiensi energi, manufaktur maju atau infrastruktur perkotaan, ABB memiliki produk, solusi, dan penawaran layanan yang luas untuk melengkapi peta jalan Indonesia di masa depan dalam revolusi industri keempat, “ ungkap Presiden Direktur ABB Indonesia, Michel Burtin.

Ia menegaskan bahwa saat ini dunia sedang mengalami perubahan teknologi transformasional. Perubahan revolusioner yang disebut revolusi industri keempat (Industri 4.0) ini berdampak pada cara orang hidup, bekerja, dan berkomunikasi, pemerintahan, pendidikan, perawatan kesehatan dan perdagangan serta berdampak pada lanskap industri dan energi global.  Teknologi digital mendorong transformasi cepat di seluruh industri, sistem energi juga berubah terutama didorong oleh energi terbarukan.

Dari hasil riset McKinsey, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan optimisme tertinggi dalam menerapkan industri 4.0, yakni sebesar 78 persen. Di atas Indonesia terdapat Vietnam sebesar 79 persen, sedangkan di bawah Indonesia ditempati Thailand sekitar 72 persen, Singapura 53 persen, Filipina 52 persen dan Malaysia 38 persen. 

Riset McKinsey juga menunjukkan, industri 4.0 akan berdampak signifikan pada sektor manufaktur di Indonesia. Misalnya, digitalisasi bakal mendorong pertambahan US$150 miliar atas hasil ekonomi Indonesia pada 2025. Sekitar seperempat dari angka tersebut, atau senilai US$38 miliar, dihasilkan oleh sektor manufaktur.

Di Indonesia, melalui Kementerian Industri, Making Indonesia 4.0 bertujuan memberikan arah dan strategi yang jelas bagi pergerakan industri Indonesia di masa yang akan datang, termasuk di lima sektor yang menjadi fokus dan 10 prioritas nasional dalam upaya memperkuat struktur perindustrian Indonesia.

Lima sektor yang ditetapkan pemerintah makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, bahan kimia, elektronik, dan otomotif, yang menyumbang 60 persen dari PDB dan ekspor Indonesia, sebagai sektor prioritas untuk pembangunan untuk mengantisipasi era ini.  Hampir satu dari lima populasi pekerja di Indonesia bekerja di sektor manufaktur dan Surabaya sendiri sebagai kota industri memegang peranan penting untuk turut serta mensukseskan pengiplementasian Industri 4.0. 

Produksi industri manufaktur mikro dan kecil di Jawa Timur pada triwulan I tahun 2019 Q to Q mengalami pertumbuhan sebesar 8,42 persen, sementara dalam YoY tumbuh 5,23 persen. Adapun sejumlah sektor industri manufaktur mikro dan kecil yang mengalami pertumbuhan lebih dari 10 persen pada Triwulan l tahun 2019 (Q to Q), diantaranya Industri Makananan, dengan pertumbuhan 10,93 persen. Industri percetakan dan Reproduksi Media Rekaman, dengan pertumbuhan 16,46 persen.

Industri Furniture, dengan pertumbuhan 19,08 persen.

"Dengan pertumbuhan sejumlah sektor industri manufaktur yang kian meningkat, ABB menawarkan teknologi inovatif terbaru dengan menghadirkan ABB Ability ™ï¸ Digital Powertrain dengan drive demo terintegrasi, motor dengan sensor dan pompa cerdas, serta  IRB 14000 YuMi ®ï¸ robot bergerak untuk melakukan perakitan," terangnya. 

Making of Indonesia 4.0 akan menjadi pendorong pertumbuhan yang kuat untuk memperkuat posisi Indonesia di kawasan dan dunia. Sebagai pemimpin teknologi dengan kehadiran kuat di Indonesia selama lebih dari 30 tahun, ABB Indonesia berkomitmen untuk menjadi bagian dari transformasi ini.kbc6

Bagikan artikel ini: