Tak berizin, bisnis jualan emas digital siap-siap ditutup

Rabu, 18 September 2019 | 07:00 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mengingatkan para pelaku pedagang emas digital untuk segera mendaftarkan izin usahanya. Jika tidak, maka Bappebti telah menyiapkan sanksi, salah satunya adalah tindakan penutupan.

Kepala Bappebti Tjahya Widayanti mengatakan, bahwa melaksanakan perdagangan emas digital, terdapat beberapa ketentuan yang perlu dijalankan oleh masing-masing pihak yang ikut bermain. Mulai dari bursa, lembaga kliring, pedagang, perantara pedagang, pengelola/tempat penyimpanan emas. Masing-masing punya hak dan kewajiban, serta persyaratan yang harus dipenuhi.

Perusahaan yang wajib mendaftar adalah pedagang fisik emas digital yang melakukan promosi, pemasaran dan transaksi jual belinya dilakukan secara digital atau online. Setelah mendapat persetujuan dan operasional, pedagang emas digital ini harus melaporkan transaksi jual belinya ke bursa berjangka.

Ditambahkan Tjahya Widayanti, transaksi pasar fisik emas digital yang mendapat persetujuan dari Bappebti terdapat dua mekanisme. Pertama, mekanisme transaksi pasar fisik dengan penyepadanan (matching) transaksi di Bursa Berjangka. Kedua, mekanisme transaksi pasar fisik dengan penyepadanan (matching) transaksi di perdagangan fisik emas digital yang sarana dan prasarana sistem perdagangannya wajib terhubung langsung dengan Bursa Berjangka dan Lembaga Kliring Berjangka.

Adapun syarat untuk menjadi pedagang fisik emas digital, ia menuturkan, yakni perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT), memiliki sarana dan prasarana memadai untuk menjalankan kegiatan jual beli komoditas, memiliki rekening terpisah yang khusus dipergunakan untuk memfasilitasi perdagangan fisik emas digital, serta melengkapi dokumen yang dipersyaratkan lainnya.

Tjahya kemudian mengemukakan beberapa persyaratan lainnya. "Jadi apa beberapa pemain di dalam perdagangan komoditi fisik emas digital ini. Ada bursanya, ada lembaga clearing-nya, ada pedagangnya, ada perantara perdagangannya, kemudian ada pengelola tempat penyimpanan emasnya (depositori)," tandasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: