Sumbang pajak besar, Kadin minta pemerintah perhatikan industri rokok

Kamis, 19 September 2019 | 07:01 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kalangan pelaku industri rokok di Tanah Air keberatan terhadap keputusan kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23% yang mulai berlaku 1 Januari 2020. Aturan dikhawatirkan membuat sejumlah industri rokok khususnya skala menengah kecil gulung tikar.

Hal itu patut disayangkan, mengingat sumbangsih pabrikan rokok terhadap pemasukan pajak terbilang tinggi.

Atas hal ini, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslan meminta agar kenaikan cukai tersebut dipertimbangkan dari semua sisi.

"Yang penting dicari keselarasan dan keseimbangan aja," katanya di Jakarta, Rabu (18/9/2019).

Menurut Rosan, pemerintah harus menimbang aspek produsen, konsumen, dan kesehatan. Bagi produsen, katanya, mereka beranggapan telah memberikan kontribusi yang besar kepada negara.

"Di satu sisi kita hormati juga yang masih mau merokok. Sumbangan ke perpajakannya juga tinggi," tutupnya.

Di sisi lain, pasar industri mereka juga mulai tergerus dengan munculnya rokok elektronik. "Kalau kita kan melihatnya dari semua sisi. Dari segi konsumennya, dari segi produsennya, dari segi kesehatannya. Tentunya kan di satu sisi kalau dari produsen rokok menyatakan mereka sudah memberikan distribusi yang cukup besar untuk pajaknya. Tapi di satu sisi ini juga kan ada perkembangan dari rokok seperti vape dan segala macam. Itu juga akan menggerus pasar-pasar mereka," paparnya.

Rosan mengaku tidak merokok. Menurutnya, semakin banyak orang tidak merokok akan lebih baik. Namun, dia mengatakan, rokok menyumbang pajak besar ke negara.    kbc10

Bagikan artikel ini: