Fintech perencana dan agregator keuangan dinilai paling beri manfaat

Kamis, 19 September 2019 | 13:39 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi dari 15 klaster perusahaan teknologi finansial (financial technology/fintech), ada dua klaster yang paling memberi manfaat ialah segmen perencana keuangan (financial planner) dan agregator keuangan (financial aggregator).

Sampai saat ini, OJK mencatat ada 48 penyelenggara inovasi keuangan digital yang masuk dalam 15 klaster fintech. Adapun, terdapat sebanyak 127 perusahaan fintech pembiayaan atau peer to peer lending (P2P lending) sampai Agustus 2019. 

Ke-15 klaster itu antara lain, financial agregator, credit scoring, claim service handling, digital DIRE, financial planner, financing agent, funding agent, online distress solution, online gold depository, project financing, social network and robo advisor, block-chain based, verification non-CDD, tax and accounting, dan e-KYC. 

Seluruhnya masuk dalam regulatory sandbox, yakni mekanisme untuk menguji model bisnis, produk, layanan, hingga teknologi perusahaan fintech baru. 

"Prediksi dari 15 klaster yang paling memberi manfaat setidaknya ada financial planner, sehingga bisa merencanakan keuangan dengan baik tanpa biaya. Dampak besar lain adalah agregator (keuangan)," kata Kepala Group Inovasi Keuangan Digital OJK, Triyono dalam konferensi pers Fintech Summit and Expo 2019, Rabu (18/9/2019). 

Dia menjelaskan, fintech segmen financial planner menggunakan teknologi artificial intelligent yang dapat memberi nasihat perencanaan kepada pengguna demi mencapai tujuan keuangan, tentu dengan strategi dan perhitungan akurat. 

Sementara itu, perusahaan financial agregator bisa meningkatkan pengetahuan sehingga masyarakat dapat memilih produk keuangan yang tepat sesuai kebutuhan masing-masing. 

"Masyarakat akan lebih cerdas dan bisa memilih produk yang tepat. Bank atau lembaga keuangan lain juga akan lebih hati-hati memberi pricing (harga/imbal hasil) karena dibandingkan dengan yang lain," papar Triyono. 

Sementara itu acara fintech terbesar pertama di Indonesia itu diselenggarakan oleh OJK, Bank Indonesia, dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH). Pelaksanaan juga didukung Asosiasi Fintech pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dan Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI). 

Sebanyak 100 perusahaan fintech akan hadir dalam pameran tersebut, khususnya segmen yang selama ini belum terjangkau oleh sektor keuangan konvensional. 

Ketua Umum Aftech Niki Luhur mengatakan acara tersebut bertujuan untuk mendorong industri fintech tanah air, dan semakin berperan meningkatkan inklusi keuangan. dia berhadap Fintech Summit and Expo dapat mendorong tercapainya target inklusi keuangan sebesar 75 persen pada 2019 melalui berbagai solusi fintech. kbc10

Bagikan artikel ini: