Peternak nasional siap hadapi unggas Brasil, jika...

Jum'at, 20 September 2019 | 21:22 WIB ET

SERPONG, kabarbisnis.com: Peternak sedianya segera melakukan konsolidasi. Bekerjasama antara integrator dan petenak mandiri agar usaha budidaya unggas nasional memiliki efisiensi sehingga posisi tawar atas unggas impor.

Ketua Dewan Pembina Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Tri Hardiyanto menegaskan semua pemangku kepentingan harus mengantisipasi menyusul diperbaharuinya ketentuan impor ayam ras dan produk ayam yang menyesuaikan putusan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) .Potensi masuknya impor ayam ras ke Tanah Air akan sulit dihindari.

Saat ini, Brasil sudah mengekspor produk hasil ternaknya ke 10 negara.Dengan membubuhkan volume sebesar 4,1 juta ton. Termasuk diantaranya ke Arab Saudi yang notabene merupakan pasar besar sebagai negara muslim.

Namun yang patut dicermati pula harga ayam asal Brasil ini mengalami trend kenaikan harga dalam beberapa tahun terakhir. Biaya pokok produksi (BPP) livebirth /ayam hidup sebesar US$0,95 atau Rp 12.000 an.

Tri Hardianto menambahkan apabila harga karkas digudang importir dapat mencapai Rp 27.000/kg. Sementara, di peternak domestik untuk menghasilkan BPP livebirth sebesar Rp 17.000/kg.Tidak terpaut jauh dengan BPP ayam ras Brasil.

"Malahan kita sudah biasa menjual harga ayam sebesar Rp 25.000 /kg.Le ih murah dari daging ayam beku dari Brasil," kata Tri Hadianto dalam seminar Strategi Perunggasan Nasional Hadapi Impor Produk Brasil di Serpong, Jumat (20/9/2019).

Tri Hartono menegaskan efisiensi budidaya peternak lokal masih dapat diraih apabila komponen jagung yang berkontribusinya 60% dari biaya pakan. Syaratnya harga jagung lokal tidak melebihi Rp 3.800/kg, meski di pasar peternak masih menembus di harga Rp 4.300/kg.

"Kalau harga jagung bisa turun Rp 500 , peternak sudah dapat untung.Memang ada yang tidak tepat dengan kebijakan jagung (menghentikan impor red).Kalau harga jagung turun , harga Day Old Chicken (DOC) /anak ayam juga akan turun dibawah Rp 6.500/kg," terangnya.

Tri Hardiyanto beranggapan surplus/over produksi jangan lagi dianggap momok penyebab ketidakstabilan harga ayam.Over produksi justru ddapatdijadikan kekuatan berupa buffer stocking ayam ras nasional." Produksi (ayam ras red) tidak perlu terlalu dibatasi," ujar Tri Hardiyanto.

Kementerian Pertanian memprediksikan sirplus produksi DOC FS sebesar 577.918 ton di tahun 2019.Pasalnya, produksi mencapai 3,48 miliar ekor atau setara daging ayam 3,83 juta ton.Sementara Menurutnya kebutuhannya hanya 3,25 juta ton.

Dia mendorong peternak melakukan konsolidasi sehingga membangun rumah potong hewan unggas .Apalagi memiliki infrastruktur cold storage,disimpan berupa daging beku. 

Kemudian dilepas ke pasar,untuk mengimbangi harga ayam di pasar becek. Pemerintah, dalam hal ini Menko Perekonomian dapat bertindak sebagai juri untuk memetakan  neraca kebutuhan antara ayam segar degan beku yang dapat didistribusikan ke pasar.

Daya saing ayam ras peternak lokal dapat lebih tinggi, apabila mereka juga merubah mindset budidaya dengan memodernisasi kandang semi modern yang ongkos produksinya tidak mahal. Menurutnya terkonsolidasi peternak mandiri, sehingga membentuk koperasi atau mini integrasi.

Ahmad Dawami, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), salah satu keunggulan komparatif peternak ayam di Brasil karena memperoleh dukungan penuh perbankannya. Bagi peternak yang membangun kandang close house, akan diberikan kredit murah yakni hanya dua persen. "Sementa bunga KUR sebesar tujuh persen.Tapi akses peternak masih sulit memperoleh kredit," tutupnya.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita berpesan pelaku usaha perunggasan nasional harus memiliki integritas, komitmen, profesionalime. Selain itu, kejujuran dalam melaporkan data populasi .Dengan begitu, pihaknya dapat obyektif menghitung neraca produksi unggas nasional.kbc11

Bagikan artikel ini: