Dua perusahaan ini kesengsem kembangkan kacang hijau Balitbangtan

Minggu, 22 September 2019 | 15:34 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kacang hijau dengan karakter genjah dan polong masak fisiologis serempak sangat disukai petani karena perawatannya mudah dan tenaga kerjanya lebih efisien sehingga tidak harus panen berkali kali. Berbeda dengan kacang hijau varietas lokal yang panennya dua-tiga kali.

Untuk memenuhi kebutuhan petani, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah merilis lima varietas unggul baru (VUB) kacang hijau dengan karakter genjah dan polong masak fisiologis serempak. Salah satunya, VUB kacang hijau Vima yang produktivitasnya tinggi dengan polong matang serempak.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menderaskan informasi dan keunggulan VUB kacang hijau tersebut ke end user hingga masyarakat luas antara lain melalui beragam event pameran, gelar teknologi, demplot, hingga kunjungan langsung ke Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), serta visitor plot di beberapa Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP).

Penuturan petani di semua lokasi demplot sangat puas dan “ketagihan” untuk kembali membudidayakannya lagi. Petani di Sumenep Madura mengungkapkan hasil panen Vima 3 mencapai 2,7 ton/hektare (ha). 

"Petani Grobogan dan Demak menyampaikan informasi panen Vima 1 mencapai 2 ton/ha. Padahal cara menanamnya dengan menyebarkan benih kacang hijau setelah panen padi MT 2 dan tanpa tambahan pupuk," ujar Kepala Balitkabi Yuliantoro Baliadi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (22/9/2019).

Dikatakan panen Vima lebih hemat biaya karena cukup sekali akibat polong matang serempak. Selain itu, kacang hijau Vima lebih tahan terhadap hama trips dan kutu kebul dibanding varetas lokal yang biasa mereka tanam pada musim yang sama tahun sebelumnya.

Meskipun belum lama dirilis Balitbangtan, kelebihan Vima mengakibatkan permintaan benihnya meningkat drastis. Peluang penyediaan benih Vima bermutu langsung menarik swasta untuk mengembangkannya lebih lanjut, terutama produksi benih sebarnya.

Balitbangtan melalui Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian (BPATP) memberikan lisensi non ekslusif untuk memastikan ketersediaan benih dengan jaminan kualitas tinggi dan kotinyu di masyarakat. Dua perusahaan telah tercatat sebagai lisensor benih Vima, yaitu CV Semi dari Grobogan Jawa Tengah, serta PT East West Indonesia yang memiliki kebun produksi di Purwakarta.

Direktur CV Semi Anthony mengatakan sebagai tanaman ketiga sebelum memasuki MT tahun berikutnya, budidaya kacang hijau sangat menguntungkan. Kacang Hijau Vima yang dilepas Balitbangtan merupakan VUB yang bisa dipanen serempak, produksi tinggi, dan perawatannya mudah. 

Keunggulan Vima lainnya adalah berumur genjah karena sudah bisa dipanen setelah 56-57 hari dan lebih tahan hama thrips dan kutu kebul.

Meskipun varietas baru, menurut Anthony, permintaan benih sebar Vima luar biasa. "Setelah petani melihat sendiri hasilnya, mereka baru percaya dan memborong benihnya," lanjutnya.

Anthony beserta tim agronomis dan petani kolaborator meninjau kondisi pertanaman Vima calon benih di Grobogan Jawa Tengah. Budidaya dilakukan pada MT ke-3, atau setelah panen padi MT ke-2.

Lebih lanjut Anthony menjelaskan selama ini petani di wilayahnya secara turun temurun sudah terbiasa budidaya kacang hijau pada MT ke-3. Teknik budidaya yang dilakukan masih tradisional, yaitu menyebar benih kacang hijau sesaat setelah panen padi selesai. 

Tanpa pemupukan, tanpa penyemprotan pestisida, selanjutnya dibiarkan saja hingga panen.Benih yang digunakan biasanya membeli di pasar/mini market, atau menyisihkan panen tahun lalu untuk digunakan sebagai benih. 

Hal tersebut berakibat keseragaman varietas maupun hasil panennya tidak maksimal, rata-rata hasil panen 1-1,3 ton/ha.Melihat kondisi tersebut, CV Semi mengajukan permohonan ke pemerintah, dalam hal ini Balitbangtan selaku pemilik varetas, untuk melisensi penangkaran benih Vima1, Vima 2, dan Vima 3. 

Hal tersebut dilakukan agar hasil panen petani bisa meningkat karena menggunakan varetas unggul baru.Keyakinan Anthony semakin bertambah saat salah satu petani kolaboratornya menanam varetas tersebut dengan sumber benih dari Balitkabi Malang. 

Vima 1 memperoleh panen 1,7 ton/ha, Vima 2 mendapat 2,4 ton /ha, sedangkan Vima 3 panennya 2,1 ton/ha. Antony menegaskan bersedia menampung semua hasil panen Vima petani di Grobogan dan daerah sekitarnya.

Dukungan pemerintah, berupa sosialisasi masif terkait keunggulan Vima, serta penyuluhan teknik budidaya diharapkan agar masyarakat semakin mengetahui dan menggunakan varetas tersebut. Anthony meyakini dengan harga Rp 13.000/kg dan mudahnya pemeliharaan akan sangat membantu petani untuk meningkatkan taraf kesejahteraannya kbc11

Bagikan artikel ini: