Bunga acuan kian melandai, kapan kredit bank turun?

Senin, 23 September 2019 | 07:52 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) telah tiga kali berturut-turut menurunkan suku bunga sebesar 75 bps, saat ini suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 5,25%. 

Keputusan ini diharapkan dapat memicu perbankan juga akan menurunkan suku bunga deposito dan kreditnya. Penurunan bunga acuan, tentu bisa membuat bank menambah kapasitasnya dalam menyalurkan kredit.

Namun demikian, kalangan perbankan masih belum segera merespon langkah BI tersebut. Persaingan likudiitas yang ketat dan proyeksi masih melandainya pertumbuhan kredit hingga akhir tahun jadi alasannya.

Presiden Direktur PT Bank Panin Tbk (PNBN) Herwidayatmo mengatakan, transmisi penyesuaian bunga kredit terhadap bunga acuan paling cepat bisa terjadi pada dua bulan mendatang.

“Penyesuaian bunga acuan terhadap suku bunga simpanan di bank biasanya memang bisa ditransmisikan lebih cepat, sedangkan untuk suku bunga pinjaman mungkin sekitar 2 bulan hingga 3 bulan setelahnya. Karena siklus pembayaran pinjaman biasanya terjadwal, ada jangka waktunya,” katanya.

Selain itu, perseroan juga tak akan tergesa mengerek suku bunga kreditnya lantaran target pertumbuhan kredit Bank Panin masih jauh panggang dari api.

Perseroan membidik untuk meraih pertumbuhan kredit hingga 12%. Sementara dari laporan bulanan pada Juli, pertumbuhannya tak sampai 1%. Tepatnya sebesar tepatnya sebesar 0,81% (yoy). Dari Rp 133,08 triliun pada Juli 2018 menjadi Rp 134,17 triliun pada Juli 2019.

“Pertumbuhan kredit kami masih flat, namun kami optimistis bisa mencapai target 10%-12% karena masih ada beberapa bulan hingga akhir tahun,” lanjutnya.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiatmadja juga bilang, perseroan butuh pertimbangan terkait biaya dana. Ini terkait ekses kenaikan bunga acuan sebesar 175 bps dari 4% menjadi 6% sepanjang 2018. bunga acuan yang berada di level 6% bertahan hingga Juli 2019. 

Sedangkan sejak Juli 2019 hingga September 2019 bank sentral telah melungsurkan bunga acuan 75 bps hingga ke level 5,25%.

“Penurunan bunga acuan tentu merupakan hal yang positif untuk perekonomian. Yang jelas kami kan melakukan penyesuaian dengan memperhatikan kondisi biaya dana (cost of credit), dan permintaan kredit. Waktunya bisa segera dan sebagian lainnya dalam satu hingga dua bulan mendatang,” katanya.

Meski berjuluk bank pemilik dana murah terbesar di tanah air, biaya dana BCA nyatanya juga naik akibat kenaikan bunga acuan sepanjang 2018 lalu. Pada Juni 2019 biaya dana perseroan berada di level 6,24%, meningkat 19 bps dibandingkan Juni 2018 sebesar 6,05%.

Sementara pasca penurunan bunga cuan Bank Indonesia pada Juli dan Agustus lalu, perseroan cuma mengerek SBDK segmen konsumsi non-KPR dari 8,66% pada Februari 2019 menjadi 8,98% pada Agustus 2019. Sedangkan segmen lainnya tetap di kisaran 9,75%-9,90%.

Chief of Credit PT Bank Danamon Tbk (BDM) Dadi Budiana menyatakan, pihaknya tak bisa segera menurunkan suku bunga simpanan maupun kreditnya lantaran butuh waktu penyesuaian.

Dari laman resminya, Bank Danamon masih menggunakan SBDK per Juni 2019 di kisaran 10,00%-17,00%, rentang tersebut belum berubah sejak awal tahun. Meskipun sudah terjadi dua kali penurunan bunga acuan Bank Indonesia pada Juli dan Agustus.

“Kami tentu menyambut baik keputusan Bank Indonesia ini. Di tengah kondisi ekonomi yang cukup menantang saat ini, penurunan bunga acuan diharapkan bisa menjaga tidak terjadi pelemahan ekonomi. Kami pun tentu akan melakukan penyesuaia, tapi tentu tidak segera,” bebernya.

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, langkah BI yang telah menurunkan suku bunga acuan hendaknya segera diikuti perbankan untuk memangkas bunga kredit.

"Sehingga demand dan supply akan mendorong kredit dan pembiayaan. Memang kita harapkan bank-bank juga akan menurunkan suku bunga deposito dan kreditnya," harapnya.

Jika perbankan bisa menurunkan bunga kredit dan depositonya, Perry bilang, tentu dapat mendorong penyaluran kredit, meskipun akan membutuhkan waktu. Namun, Perry meminta agar secepatnya dilakukan. 

"Tapi jangan lama-lama. Supaya tidak hanya kapasitas kredit naik, permintaan kredit juga naik. Sehingga investasi naik, konsumsi naik. Pertumbuhan ekonomi naik," paparnya. 

Bank Indonesia mencatat bunga kredit sejak Desember 2018 sampai dengan Juni 2019, sudah turun 18 basis point (bps). Sementara pada Juli 2019 sampai Agustus 2019, sudah turun 4 bps. 

"Kita mengharapkan lebih turun lagi. Dan lebih cepat lagi, supaya ekonomi terus bergerak," kata Perry.

Meski begitu, harus diakui suku bunga kredit perbankan saat ini masih begitu tinggi di angka double digit. Bahkan, suku bunga kredit perbankan domestik jauh lebih tinggi ketimbang negara tetangga.

Berdasarkan data Suku Bunga Dasar Kredit Perbankan (SBDK) di OJK, tercatat bunga KPR 10 bank besar masih di 12,5%. Di mana suku bunga KPR bank ini cukup tinggi. kbc10

Bagikan artikel ini: