Cegah kerusakan lingkungan, Kementan latih petani olah tanah tanpa bakar lahan

Senin, 23 September 2019 | 18:02 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian terus berupaya berperan aktif dalam mengatasi kebakaran lahan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah teknologi olah tanah tanpa bakar dengan penggunaan mekanisasi pertanian dan aplikasi mikroba dekomposer. 

Demonstrasi dan sosialisai kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Agrowisata, Pekanbaru. Acara ini dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Dr. Sam Herodian, Wakil Walikota Pekanbaru Ayat Cahyadi, Ketua KTNA Pusat, Kepala BPPSDMP, Direktur Alsintan, Kepala BBSDLP, Kadis TPHBun Prov Riau, Kepala BPTP Riau, Kepala Karantian Kelas 1 Pekanbaru, Penyuluh, dan Petani.

"Kementerian Pertanian telah menyiapkan teknologi pertanian untuk mencegah kebakaran lahan. Kementan telah menyiapkan berbagai macam alsintan untuk menerapkan teknologi ini seperti traktor, combine harvester, drone untuk menebar benih, dan lain-lain," terang Dr Sam Herodion dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (23/9/2019).

Penggunaan drone untuk menebar benih padi dan bisa dimodifikasi sebagai sprayer untuk penyemprotan. Cara bakar saat membuka lahan memang praktis, murah, dan cepat. 

Namun cara tersebut menimbulkan kerugian yang luar biasa, seperti berisiko menyebabkan kebakaran yang lebih besar dan tidak terkendali.Menyebabkan kabut asap (haze) yang mengganggu kesehatan, transportasi dan berbagai aktivitas ekonomi.Hilangnya sejumlah unsur hara dan bahan organik; serta Menimbulkan emisi gas rumah kaca.

Terdapat beberapa tahapan dalam penyiapan lahan tanpa bakar, yaitu: Penggunaan escavator untuk membersihkan alang-alang atau semak; Pengolahan tanah dengan traktor roda 4, berturut-turut dengan piringan dan rotary; Penggunaan drone untuk hambur benih di lahan sawah atau seeder di lahan kering; Penggunaan decomposer untuk melapukan bahan organik dan aplikasinya berbarengan dengan olah tanah; dan Pembuatan biochar dari sisa tanaman dengan ukuran besar (tunggu-tunggul). "Biochar ini sangat berperan dalam konservasi air, terutama di lahan kering," ujarnya

Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian telah membuat dekomposer untuk pengomposan ilalang maupun gulma pada lahan sehingga bisa menjadi pupuk organik yang berguna untuk tanaman.

Penggunaan alat mekanisasi pertanian dalam penyiapan lahan dan tanam ditujukan untuk: menciptakan ruang pertumbuhan yang baik bagi perakaran tanaman; menghilangkan sumber/inang penyakit JAP; meningkatkan efisiensi kerja

Berdasarkan uji yang dilakukan oleh Kementan, mekanisasi mampu menurunkan biaya produksi sekitar 30 persen dan di sisi lain mampu meningkatkan produktivitas lahan 33,83 persen. Penggunaan alsintan mempercepat proses produksi, seperti dalam olah tanah yang biasanya secara manual butuh 320-400 jam/ha.Dengan alsintan hanya butuh 4-6 jam/ha dan menghemat biaya kerja hingga 40 persen (hanya Rp 1,2 juta/ha dibandingkan sebelumnya Rp 2 juta/ha.

Penggunaan dekomposer pada prinsipnya adalah usaha untuk mempercepat dekomposisi bahan organik, terutama terhadap sisa tanaman berkayu. Mikroba decomposer ini juga dapat membantu mempercepat pelapukan pangkasan gulma dan sisa tanaman menjadi kompos sehingga pembakaran tidak diperlukan. 

Penyemprotan dekomposer dilakukan berulang-ulang agar pembusukan serasah berkayu lebih cepat. Manfaat dari pengelolaan lahan tanpa bakar dengan menggunakan mekanisasi dan aplikasi dekomposer antara lain: Ramah lingkungan, mempertahankan bahan organik tanah dan sejumlah hara tanah; mengurangi emisi gas rumah kaca; mempertahankan keanekaragaman hayati, Menghindari masalah hukum yang merugikan.

"Selain itu mengurangi polusi udara akibat kebakaran, kabut asap (haze) yang mengganggu kesehatan, transportasi dan berbagai aktivitas ekonomi, dan mengurangi risiko kebakaran," terangnya.

Kesempatan yang sama, Kepala BPTP Riau, Dr. Salwati menyampaikan bahwa BPTP Riau siap mendampingi dan mengawal petani dalam proses olah tanah tanpa bakar yang telah dianjurkan Kementan.kbc11

Bagikan artikel ini: