Defisit pasokan gabah, BULOG siap habiskan stok cadangan beras pemerintah

Selasa, 24 September 2019 | 13:27 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perum BULOG siap menghabiskan stok cadangan beras pemerintah (CBP) guna mengantisipasi gejolak harga seiring berakhirnya musim panen. Tahun ini manajemen menargetkan menyalurkan CBP sebesar 500.000 ton. 

Sementara, sepanjang Januari sampai 31September 2019, kegiatan Operasi Pasar dalam rangka Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) yang berasal dari CBP sudah sebesar 333.401. Dibandingkan periode sama tahun lalu, CBP yang sudah dilepas mencapai 350.062 ton atau turun 4,6%.

Adapun selama tahun 2018, BULOG menyalurkan OP dari  CBP yang disalurkan mencapai 544.716 ton. “Operasi Pasar Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga kali ini melibatkan seluruh karyawan Perum BULOG, tidak saja staf namun juga Kepala Divisi sampai dengan Kepala Seksi.Operasi pasar secara masif dilakukan  di seluruh Indonesia selama tiga hari,” ujar Budi Waseso Direktur Utama Perum BULOG dalam sambutannya ketika melepas 20 truk berisi sembako di Jakarta, Selasa (24/9/2019).

Realisasi pelaksanaan KPSH per hari 1.126 ton. Khusus Daerah Khusus Ibukota Jakarta realisasi kegiatan KPSH per tanggal 23 September 2019 mencapai 42.026 ton, dengan rata-rata realisasi per hari 2.159 ton.

"Umumnya bulan September ini sudah tidak ada lagi panen, karena itu operasi pasar kita massifkan. Tahun ini BULOG targetkan operasi pasar beras juga sebesar 500.000 an ton," terang Buwas.

Buwas menegaskan berakhirnya siklus musim panen ini berpotensi menggerakkan harga beras sampai akhir tahun 2019. Hanya saja, bukan berarti tidak ada stok beras di masyarakat.

BULOG tetap melakukan serapan gabah, meski volumenya hanya 3.000 ton/hari. Panen masih terjadi di Provinsi Lampung dan Sulawesi Selatan.Angkanya terpaut jauh apabila panen raya masih berlangsung yakni dapat di atas 20.000 ton.

Menurut mantan Kabareskrim Polri ini serapan beras pada fase ini menggunakan skema komersial. “Barang (beras, red) tetap ada di masyarakat dan pedagang. Jadi tren kenaikan beras ini bukan terkait karena kelangkaan, stok beras banyak,” ujarnya.

 

Menipisnya pasokan beras di petani ini konsekuensinya menggerek harga gabah kering giling. Jika di musim panen , BULOG masih dapat membeli berkisar Rp 4.020/kg, maka kini sudah mencapai Rp 5.000/kg-Rp 5.500/kg. “Kenaikan harga gabah itu yang mendorong naiknya harga beras. Ini yang harus kita jaga," terangnya.

Atas hal ini, menurut Buwas pasar membutuhkan pasokan lebih banyak untuk meredam potensi gejolak harga beras menjelang akhir tahun. Dari hasil pantauan harga beras IR-64 III di PIBC di tingkat grosir sebesar Rp. 9.025/kg. Sedangkan  pantuan PIHPS untuk harga beras medium II di tingkat eceran sebesar Rp.11.550/Kg.

 

Hasil pencatatan harga BPS menunjukkan harga beras secara umum di tingkat konsumen mulai mengalami trend kenaikan walaupun tidak signifikan. Namun memperhatikan pola pergerakan harga beras tahunan menunjukkan trend kenaikan harga beras sampai akhir tahun.

 

Berkaitan OP KPSH, BULOG menawarkan lima komoditas pangan yakni beras medium plus 50 kg. Harga jual yang ditawarkan ke mitra pedagang Rp 8.350 dan konsumen Rp 8.600/kg. Harga beras OP ini jauh lebih murah dari HET yang ditetapkan pemerintah yakni Rp 9.450/kg.

 

Sementara harga premium II 5 kg Rp 11.000/kg (HET Rp 12.800/kg). Kemudian Gula Maniskita 1 kg Rp 11.500/kg(12.500/kg) dan minyak Goreng Kita 1 liter Rp 11.800/literb.(Rp 12.000/liter). kbc11

Bagikan artikel ini: