Pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara ditaksir melemah jadi 4,5 persen

Kamis, 26 September 2019 | 07:58 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Laporan terbaru Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) memprediksi pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara pada 2019 ini akan melambat menjadi sebesar 4,5 persen.

ICAEW Economic Advisor and Oxford Economics Lead Asia Economist, Sian Fenner mengatakan, pelemahan itu diakibatkan tantangan global dan ketidakpastian perdagangan AS-China.

“Kami perkirakan akan terjadi kemerosotan prospek ekonomi lebih lebih lanjut di seluruh wilayah Asia Tenggara, terutama bagi negara dengan ekonomi yang lebih bergantung pada perdagangan dan tetap stabil pada angka yang sama hingga 2020,” ujar Sian dalam keterangan tertulisnya, Rabu (25/9/2019).

Permintaan domestik diperkirakan meningkat akibat dari kebijakan penurunan suku bunga pinjaman.

“Menghadapi tantangan eksternal yang kian tajam, dengan lebih rendahnya suku bunga dan lemahnya tekanan inflasi, bank sentral di seluruh wilayah Asia Tenggara diharapkan dapat menurunkan kebijakan suku bunga guna mendukung permintaan domestik,” paparnya.

Kebijakan fiskal pun harus lebih kondusif di tengah investasi infrastruktur yang lebih tinggi.

Setelah menurunkan suku bunga sebanyak 50 basis poin (bp) tahun ini, Bank Sentral Indonesia dan Filipina diperkirakan akan menurunkan suku bunga sekali lagi pada kuartal keempat (Q4) tahun 2019.

Begitu juga dengan Thailand dan Malaysia yang diperkirakan akan menurunkan suku bunga setidaknya 25 basis poin (bp) pada awal tahun 2020.

Singapura diperkirakan akan mengalami resesi teknis manufaktur pada kuartal ke tiga (Q3) 2019.

Vietnam diperkirakan akan terus unggul di antara negara lainnya, walaupun mengalami penurunan pada pertumbuhan PDB menjadi 6,7 persen pada tahun 2019, diikuti deselerasi selanjutnya menjadi 6,3 persen pada tahun 2020.

Jika AS menerapkan tarif impor lebih tinggi pada Vietnam, pertumbuhan PDB negara tersebut diperkirakan akan menurun menjadi 5,9 persen pada tahun 2020-21 dibandingkan dengan batas bawah 6,2 persen.

ICAEW Regional Director, Greater China and South-East Asia, Mark Billington memperkirakan tantangan kondisi eksternal akan terus membebani pertumbuhan perekonomian secara umum di seluruh Asia Tenggara, sama halnya dengan perputaran perdagangan regional.

“Meskipun aktivitas domestik - didukung oleh berbagai kebijakan makro akomodatif - sepertinya akan menahan perdagangan yang melemah, pertumbuhan rendah akan tetap berpotensi di Indonesia, Filipina dan Thailand, dengan Singapura mengalami dampak terberat," ujar Mark. kbc10

Bagikan artikel ini: