September, Jatim alami deflasi 0,07 persen

Rabu, 2 Oktober 2019 | 09:02 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Laju indeks harga konsumen (IHK) di wilayah Jatim pada bulan September 2019 cukup rendah. Bahkan Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat pada September 2019 Jati mengalami deflasi sebesar 0,07 persen karena turunnya harga sejumlah komoditas pangan.

Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono mengatakan, pada September 2019 seluruh kota yang menjadi acuan mengalami deflasi. Deflasi tertinggi di Jember yang mencapai 0,29 persen, sedangkan deflasi terendah terjadi di Surabaya sebesar 0,02 persen.

"Pada bulan September 2019 dari tujuh kelompok pengeluaran, lima kelompok mengalami inflasi dan dua kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok sandang sebesar 0,68 persen. Sedangkan yang mengalami deflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 1,11 persen," ujar Teguh Pramono di Surabaya, Selasa (1/10/2019).

Teguh menuturkan, tiga komoditas utama penyumbang deflasi di bulan September 2019 ialah daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras. "Harga daging ayam ras kembali mengalami penurunan disebabkan oleh banyaknya pasokan di pasaran sementara tidak terjadi kenaikan permintaan," jelasnya.

Sama halnya dengan bawang merah, pada September masih menjadi komoditas penyumbang deflasi karena harganya yang terus mengalami penurunan. Komoditas lain yang mengalami penurunan pada bulan September adalah telur ayam ras.

Selain tiga komoditas utama penyumbang deflasi di atas, komoditas lain yang juga menyumbang terjadinya deflasi bulan September ialah cabai rawit, cabai merah, bawang putih, pir, kacang panjang, tarif angkutan udara, dan terong panjang.

Selain komoditas penyumbang deflasi di atas, beberapa komoditas menjadi penghambat terjadinya deflasi di bulan September 2019. Tiga komoditas utama yang menghambat terjadinya deflasi di bulan September 2019 ialah biaya akademi/perguruan tinggi, emas perhiasan, dan beras.

Biaya akademi/perguruan tinggi yang dibayarkan pada tahun ajaran baru menjadi komoditas utama penghambat deflasi karena mengalami kenaikan dibandingkan pada bulan sebelumnya. Sementara itu emas perhiasan masih mengalami kenaikan walaupun tidak setinggi bulan sebelumnya.

Komoditas lain yang juga mengalami kenaikan adalah beras. Kenaikan harga disebabkan berkurangnya produksi akibat kemarau panjang.

Jika dibandingkan tingkat inflasi kalender (Januari - September) 2018 di 8 kota IHK Jawa Timur, sampai dengan bulan September 2019 Banyuwangi merupakan kota dengan inflasi tahun kalender tertinggi yaitu mencapai 1,89 persen, sedangkan kota yang mengalami inflasi kalender terendah adalah Kediri yang mengalami inflasi sebesar 0,66 persen.

Apabila dilakukan pengamatan terhadap sepuluh komoditas yang menjadi penyumbang utama terjadinya deflasi di masing-masing kota IHK di Jawa Timur, komoditas daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah menjadi penyumbang utama terjadinya deflasi di semua kota IHK di Jawa Timur.kbc6

Bagikan artikel ini: