Kini kaum milenial bisa beli ORI016 hanya Rp1 juta

Kamis, 3 Oktober 2019 | 07:47 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kaum milenial atau mereka yang memiliki dana cekak namun ingin berinvestasi di SBN ritel, kini bisa mewujudkan impian itu.

Pasalnya, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan, menerbitkan surat utang untuk investor ritel, ORI016. ORI dapat dibeli secara online dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder mulai dari Rp 1 juta.

Direktur Surat Utang Negara, Kemenkeu, Loto S Ginting mengatakan, berinvestasi dalam SBN ritel seperti ORI016 merupakan hal yang bijak lantaran keamanannya dijamin negara. Prosesnya juga sudah mudah lantaran bisa melalui daring.

"Pada 2018 ORI masih dijual offline, saat ini bisa lewat online. Saat ini hal yang baru untuk pertama kali, ORI dipasarkan secara online," ucap Loto, Rabu (2/10/2019).

Loto menyampaikan siapa pun bisa membeli ORI 016 selama berkewarganegara Indonesia. Pemerintah, kata dia, melarang warga negara asing (WNA) untuk membeli ORI.

"ORI bisa dijual kepada siapa saja asal jangan asing. Asing coba-coba beli akan dimarahi, disuruh paksa jual. Kalau kamu berikan keistimewaan kepada investor individu asing, mungkin sudah diborong asing," kata Loto.

Dalam penjualan ORI 016 dapat diakses melalui 23 mitra distribusi yang terdiri atas 14 bank, empat sekuritas, dan lima teknologi finansial (tekfin). Bank penjual ORI di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank DBS Indonesia, PT Bank UOB Indonesia, dan PT Bank Commonwealth. Empat sekuritas meliputi PT Trimegah Sekuritas Tbk (TRIM), PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas. Lima perusahaan keuangan berbasis teknologi (tekfin) yang terdiri atas perusahaan tekfin peer to peer lending (P2P) yakni PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku) dan PT Investree Radhika Jaya; serta tekfin berizin khusus sebagai agen penjual reksa dana (Aperd) seperti PT Bareksa Portal Investasi, PT Star Mercato Capitale (TanamDuit), dan PT Nusantara Sejahtera Investama (Invisee).

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kemenkeu, Luky Alfirman mengatakan penerbitan SBN dengan sistem daring terbukti membuahkan hasil yang cukup signifikan, terutama pembeli dari generasi milenial. Ia mengatakan, sebanyak 51 persen sampai 52 persen pembeli SBN ritel adalah generasi milenial.

"Kita sangat berharap tren ini akan berlanjut terus dan harapannya milenial semakin sadar berinvestasi," ucapnya.

Luky menambahkan, penerbitan SBN yang sifatnya budget financing ialah untuk membiayai APBN. Kata Luky, penerbitan SBN akan membantu peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pasalnya, lanjutnya, 20 persen di APBN dialokasikan untuk peningkatan SDM.

"Pembelian ini akan dimanfaatkan dengan peningkatan SDM," kata dia.

Luky optimistis penjualan ORI 016 akan menarik banyak investor. Pasalnya, pemerintah dalam setiap penerbitan selalu merangkul lebih banyak mitra distribusi. Tak hanya itu, ucap Luky, pemerintah juga sudah menggandeng sejumlah teknologi finansial (tekfin) untuk penjualan ORI 016.

"Kalau lebih banyak mitra distribusi, lebih baik, pada intinya kita melibatkan lebih banyak mitra distribusi, selama ini kan hanya perbankan, kita sekarang sudah rangkul tekfin, kita ingin rangkul platform yang lebih luas lagi, tapi butuh penjajakan lebih lanjut," ungkap Luky. kbc10

Bagikan artikel ini: