Gandeng Perhutani, PTPN X kelola lahan agroforestry tebu seluas 423 hektar di 2019

Kamis, 3 Oktober 2019 | 16:18 WIB ET

BOJONEGORO, kabarbisnis.com: PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X menjalin kerjasama dengan Perum Perhutani dalam penggunaan dan pemanfaatan kawasan hutan untuk kegiatan budidaya tanaman tebu. Langkah ini sebagai wujud komitmen PTPN X untuk mendukung ketahanan pangan sejak Oktober 2017. 

Direktur Utama PTPN X, Dwi Satriyo Annurogo mengatakan bahwa kerjasama ini terkait dengan pengerjaan lahan Perum Perhutani untuk kegiatan penanaman Agroforestry tebu seluas 5.661,5 Ha dan telah mendapat persetujuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2017. 

"Sebagai tindak lanjut dari kerjasama tersebut, saya melakukan kunjungan ke Lahan Perum Perhutani BKPH Clangap, KPH Bojonegoro, yang berada di Desa Jelu, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro," ujar Dwi saat kunjungan di Bojonegoro, Kamis (3/10/2019). 

Kunjungan ini bertujuan untuk melihat secara langsung proses pengerjaan lahan yang telah dimulai pada awal bulan Oktober 2019. 

Seluas 52,3 Ha lahan Perhutani di kawasan KPH Bojonegoro akan ditanami tebu dan dikelola langsung oleh Pabrik Gula (PG) Djombang Baru. Lahan ini nantinya akan ditanami varietas unggul baru, dengan potensi produksi 80 Ton/ Ha dan rendemen 9 persen.

“Kerjasama terkait pengerjaan lahan Agroforestry tebu ini sebagai upaya dari PTPN X untuk memastikan keajegan pasok BBT ke pabrik gula pada masa giling tahun 2020,” ungkap Dwi. 

Lebih lanjut Dwi mengatakan bahwa kebutuhan gula untuk konsumsi Rumah Tangga saat ini mencapai 2,5 juta ton per tahun, sementara total konsumsi gula nasional mencapai 5,5 juta hingga 6 juta ton. Sedangkan produksi tebu dalam negeri hanya mencapai 2 juta ton per tahun. 

"Jadi ini kurang banyak, dan kita dapat tugas untuk meningkatkan produksi gula nasional. Peningkatan produksi gula tersebut tidak bisa diterjemahkan hanya dengan penambahan PG tetapi bagaimana kita mendapatkan gula sebanyak-banyaknya di kebun melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Kalau tidak di lakukan hal ini, maka keinginan tersebut tidak bisa terealisasi. Untuk itu, kami bekerjasama dengan perhutani untuk budidaya tebu. Dan dalam pelaksanaannya harus melibatkan masyarakat. Karena kalau ada kegiatan tebu, berarti ada kegiatan ekonomi," terangnya.

Untuk perluasan tersebut, PTPN X mendapatkan izin dari Kementerian Kehutanan seluas  5.661,5 hektar yang tersebar di Bojonegoro, Jombang, Mojokerto dan Blitar. "Ini 423 hektar, masih kecil dari target. Ini tidak akan bisa berjalan tanpa dukungan masyarakat," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, PTPN X akan mengimplementasikan yang terbaik, yaitu dengan menggunakan bibit unggul dari Brazil, varietas RB dan SP yang memiliki potensi rendemen tinggi, lebih dari 10 persen dan protas di atas 90 persen.  "Ini sebagai etalase. Jadi contoh, kalau ini bagus hasilnya, bisa dicontoh masyarakat sehingga masyarakat akan tertarik budidayatebu. Kami sebagai agent of development. Kami akan implementasikan budidaya dengan teknik baru agar hasil maksimal," tambahnya.

Sementara di tahun 2018 yang lalu, PTPN X  telah melakukan penanaman seluas 223 Ha yang berada di kawasan KPH Bojonegoro, Mojokerto, Jombang, dan Blitar. Di kawasan KPH Jombang seluas 108 Ha yang dikelola oleh PG Lestari. Selanjutnya, akan ada pengerjaan lahan di kawasan KPH Mojokerto seluas 253 Ha yang akan dikelola oleh PG Gempolkrep. 

“Kerjasama ini merupakan sinergi BUMN dengan Perum Perhutani dan merupakan tugas Negara berdasarkan SKB 4 Menteri sebagai wujud BUMN Hadir Untuk Negeri, karena kegiatan Agroforestry tebu memberikan peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar,” tambah Dwi.

Pada kesempatan yang sama, Adm KPH Bojonegoro, Dewanto mengatakan bahwa kerjasama agroforestry  ini sejalan dengan misi Perhutani, yaitu Planet, People dan Profit. 

"Ini tidak murni bisnis tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu, kita juga jaga aset negara. Kenapa pemerintah menetapkan tebu, karen situasinya seperti ini biar nilai bisa ditingkatkan," pungkas Dewanto.kbc6

Bagikan artikel ini: