Harga komoditas kopi anjlok, ulah spekulan?

Selasa, 8 Oktober 2019 | 06:22 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Terus menurunnya harga kopi dunia yang juga berimbas pada harga di dalam negeri dinilai sebagai akibat ulah para spekulan yang memainkan harga komoditas tersebut.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Moelyono Soesilo mengatakan, isu yang sedang berkembang di pasar global adalah mengenai kelebihan pasokan kopi, terutama jenis robusta tidak tepat.

Padahal, menurutnya, anjloknya harga kopi robusta dan arabika ke level terendahnya selama satu dekade terakhir lebih banyak disebabkan oleh permainan dari para pelaku pasar.

“Di pasar global memang ada kelebihan pasokan kopi. Namun, besaran kelebihan pasokan kopi ini tidak sebanding dengan dampaknya terhadap  anjloknya harga kopi global. Harga yang anjlok ini lebih banyak disebabkan oleh aksi spekulan yang ingin menahan harga kopi tetap rendah,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data dari International Coffee OrganizationI Council (ICO), kelebihan pasokan kopi global pada tahun ini diperkirakan mencapai 4 juta karung. Volume tersebut naik dari tahun lalu yang mencapai 3 juta karung.

Moelyono mengatakan, besaran kelebihan pasokan tersebut tidak sebanding dengan konsumsi  kopi dunia yang mencapai 132 juta karung per tahun dan berpotensi tumbuh hingga 2,2% per tahunnya.

Untuk itu, dia menilai perlu adanya upaya bersama dari negara produsen kopi global untuk memerangi aksi spekulan tersebut. Pasalnya, dengan terus merosotnya harga kopi global, dikhawatirkannya akan menekan para petani.

Menurutnya, anjloknya harga kopi dunia membuat rata-rata harga kopi jenis robusta di tingkat petani di Indonesia mencapai Rp18.000/kilogram (kg). Harga tersebut menjadi yang terendah selama 8 tahun terakhir.

Sementara itu, untuk kopi arabika harganya mencapai Rp50.000/kg atau terendah dalam 12 tahun terakhir.

“Saya khawatir, terus turunnya harga kopi ini akan membuat petani kopi mengalihkan tanamannya ke tanaman lain. Dampaknya tentu akan membuat pasokan kepada industri menjadi berkurang,” jelasnya.

Dia melanjutkan para petani kopi di Indonesia saat ini sudah mulai melakukan efisiensi produksi. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida. Dia khawatir, langkah yang dilakukan para petani tersebut akan mengurangi  kualitas kopi Indonesia.

Ketua Umum Gabungan Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (Gaeki) Hutama Sugandhi mengatakan, dampak dari permainan para spekulan di pasar global dapat  diantisipasi dengan meningkatkan konsumsi di dalam negeri.

Menurutnya, konsumsi kopi dalam negeri masih menunjukkan pertumbuhan, di mana pada tahun ini serapan industri untuk kopi robusta mengalami pertumbuhan hingga 14% dari tahun lalu yang mencapai 350.000 ton.

“Konsumsi domestik bisa menjadi tumpuan sekaligus harapan bagi petani kita. Selama permintaan terus tumbuh, pengaruh harga kopi global bisa kita reduksi,” jelasnya.

Adapun, dalam pertemuan ICO Council ke-125 di London, Inggris pada 23—28 September lalu, delegasi Indonesia mengusulkan adanya penguatan kemitraan dan kerja sama antarelemen di seluruh negara produsen kopi.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Iman Pambagyo, yang juga menjabat sebagai Ketua ICO Council menilai langkah tersebut merupakan upaya paling ampuh untuk mengatasi anjloknya harga kopi global.

“Indonesia mendorong adanya terobosan untuk mengatasi rendahnya harga kopi melalui kemitraan antara pemerintah, petani, dan sektor industri,” ujarnya seperti dikutip dari siaran pers yang dilansir Kemendag akhir bulan lalu.

Adapun, berdasarkan laporan dari ICO Council tersebut, harga kopi dunia turun sebesar 30% dalam dua tahun terakhir. Saat ini harga kopi global berada di bawah US$2/kg. kbc10

Bagikan artikel ini: