Asosiasi klaim 60% peminjam fintech dari sektor UMKM

Rabu, 9 Oktober 2019 | 06:02 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bisnis financial technology (fintech) peer to peer (P2P) lending di dalam negeri terus berkembang pesat, baik dari sisi jumlah perusahaan maupun peminjam (borrower).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga Agustus 2019 jumlah borrower yang telah mendapatkan pinjaman dari 127 entitas P2P lending terdaftar sebanyak 10,64 juta rekening. Nilai ini tumbuh 190,39% secara year to date (ytd) dibanding Desember 2018 sebanyak 4,35 juta rekening.

Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah mengatakan, sebanyak 60% peminjam P2P lending tercatat dari sektor usaha kecil dan menengah (UKM). 

Menurutnya, pinjaman produktif ini memiliki ticket size beragam, mulai dari ratusan ribu bagi modal toko-toko penjual pulsa, hingga Rp 2 miliar bagi usaha menengah dengan skema invoice financing.

“Produk yang menyasar UKM ada dua. Pertama pinjaman UKM dalam ekosistem digital misalnya merchant e-commerce, ini sudah fully automation karena ada di dalam ekosistem. Sehingga fintech bisa menggunakan data mereka untuk melakukan analisis,” ujar Kuseryansyah di Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Juga ada UKM yang belum masuk ke dalam ekosistem digital. Ia menilai segmen ini yang masih menjadi tantangan bagi pelaku fintech dalam menggarap UKM. Lantaran UKM ini belum mendigitalisasikan usahanya.

“Dari 127 fintech P2P lending terdapat 45 entitas menjalankan pinjaman konsumtif, kemudian 47 entitas produktif, sisanya menjalankan konsumtif dan produktif,” tutur Kuseryansyah.

Ia menambahkan, data ini bisa saja terus bergeser seiring dengan perkembangan bisnis yang dijalankan oleh para pelaku industri. Ia juga melihat, OJK juga menggerakkan para pelaku yang hanya menggarap produk konsumtif mulai secara bertahap menyalurkan pinjaman sebanyak 20% ke sektor produktif.

Salah satu pelaku fintech P2P lending konsumtif yang mulai menyasar sektor produktif adalah PT Kredit Pintar Indonesia. 

Saat ini, Kredit Pintar tengah melakukan proyek percontohan atau pilot project untuk memberikan pinjaman produktif. Kredit Pintar memilih menyasar sektor pertanian pada tahap awal.

“Para petani di desa mereka susah menggunakan Bahasa Indonesia. Inilah yang menjadi tantangan terbesar saat ini. Walau begitu, semangat kita masih ingin memberikan pinjaman kepada para petani. Mungkin dengan cara menggandeng partner atau ekosistem dalam melayani petani tersebut,” ujar Chief Executive Officer Kredit Pintar Wisely Wijaya. kbc10

Bagikan artikel ini: