Sri Mulyani sebut profesi sektor keuangan ini bakal digantikan robot

Rabu, 9 Oktober 2019 | 07:14 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Era revolusi industri 4.0 tampaknya bakal juga menimpa sektor keuangan. Menteri Keuangan, Sri Mulyani bahkan memprediksi dalam 5 tahun ke depan profesi di sektor keuangan, seperti jasa penilai, akuntansi dan aktuaria akan digantikan oleh robot.

Hal tersebut disampaikan dalam sambutan pada Ekspo Profesi Keuangan di Dhanapala, Kementerian Keuangan, Selasa (8/10/2019).

Sambutan Sri Mulyani dibacakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Hadiyanto. Sebab, Sri Mulyani mendampingi Presiden Joko Widodo menghadiri Indonesia-Singapore Leader's Retreat di Singapura.

"Bisa jadi dalam 5 tahun ke depan, jasa penilaian, akuntansi maupun aktuaria akan digantikan oleh robot yang menggunakan sistem algoritma dalam menjalankan tugasnya," ujar Sri Mulyani.

Profesi Akuntan Publik saat ini berjumlah 1.416 orang dan dalam 3 tahun terakhir rata-rata pertumbuhan profesinya adalah 7 persen, penugasannya tumbuh rata-rata 9 persen dan pendapatannya tumbuh rata-rata 22 persen.

Profesi Penilai Publik saat ini berjumlah 718 orang, rata-rata pertumbuhan profesi Penilai Publik dalam 3 tahun terakhir adalah 6 persen, penugasannya tumbuh rata-rata 5 persen dan pendapatannya tumbuh rata-rata 8 persen.

Profesi Aktuaris Publik saat ini berjumlah 146 orang, rata-rata pertumbuhan profesi Aktuaris Publik dalam 3 tahun terakhir adalah 13,5 persen, penugasannya tumbuh rata-rata 1,5 persen dan pendapatannya tumbuh 40 persen dalam 2 tahun terakhir.

Untuk profesi penilai, kini terdapat suatu Automated Valuation Model atau AVM, yaitu suatu metode penilaian dengan menggunakan permodelan matematika yang dikombinasikan dengan database. Secara global model ini masih dikembangkan di beberapa negara seperti Amerika, Kanada dan Swedia.

"Namun ke depannya jika bisa digunakan secara optimal, maka akan ada perubahan proses bisnis yang signifikan dalam pekerjaan penilaian saat ini. Ke depannya, penilai yang menggunakan model ini akan menjadi lebih efektif dan efisien dalam memberikan jasa," jelas Sri Mulyani.

Profesi aktuaris juga tidak terlepas dari disrupsi akibat era digitalisasi. Perkembangan teknologi mengakibatkan munculnya inovasi-inovasi baru dalam industri asuransi, yang dapat menggantikan peran aktuaris oleh profesi lain.

"Sebagai contoh, saat ini kita mengenal adanya insurance technology (insuretech) pada dunia asuransi. Insuretech tersebut dikembangkan oleh profesi data scientist dengan memanfaatkan big data, artificial intelligence dan machine learning dengan penggunaan algoritma tertentu," jelasnya.

Insuretech menawarkan pengalaman baru bagi konsumen dengan memberikan kemudahan dan kecepatan serta efisiensi dalam mendapatkan produk asuransi. Produk yang dihasilkan lebih mengedepankan analisa atas kebiasaan konsumen, sehingga risiko yang ditanggung masing-masing konsumen berbeda.

Perubahan ini tentunya akan menggeser industri asuransi konvensional menjadi berbasis digital dengan menekankan pemanfaatan big data. Untuk itu, profesi aktuaris diharapkan agar selalu beradaptasi dan berkembang dalam segala hal, tidak hanya dari sisi ilmu aktuaria, juga dalam hal pengolahan data, pemrograman, dan khususnya kemampuan bisnis.

"Melihat contoh-contoh tersebut, dampak dari ekonomi digital bagi profesi keuangan terutama adalah adanya perubahan bisnis proses yang membuat metode konvensional dalam memberikan jasa tidak lagi sepenuhnya relevan untuk diterapkan," jelasnya.

"Untuk itu, profesi keuangan mau tidak mau akan menjadi bagian yang akan melakukan sistem digitalisasi dalam memberikan jasa profesional. Hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi profesi keuangan untuk beradaptasi atau malah kehilangan daya saingnya apabila tidak merespon perubahan-perubahan ini," tandasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: