Para diplomat muda dari berbagai negara Asia Tenggara kunjungi Banyuwangi, ada apa?

Rabu, 9 Oktober 2019 | 08:40 WIB ET

BANYUWANGI - Sebanyak 12 diplomat muda dari negara-negara ASEAN melakukan kunjungan ke Banyuwangi. Difasilitasi Kementerian Luar Negeri, belasan diplomat tersebut ingin melihat lebih dekat Banyuwangi yang dinilai mereka telah mengoptimalkan TIK untuk pengembangan daerahnya.

Ke-12 diplomat muda tersebut berasal dari Kamboja, Vietnam, Myanmar, Laos, Timor Leste, dan Indonesia. Mereka adalah peserta pelatihan Capacity Building bidang Diplomatik yang digelar Kemenlu selama 10 hari, sejak 30 September – 9 Oktober 2019. Pelatihan ini mengusung tema Diplomacy and Foreign Policy in the Era of Industrial Revolution 4.0.

“Peserta telah mengikuti in class selama 7 hari di Jakarta. Out class nya kami pilih Banyuwangi dengan beberapa alasan,” kata Nety Rahmi, perwakilan Direktorat Kerjasama Teknik, Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI saat bertemu Bupati Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Senin (7/10/2019).   

Nety lalu menjelaskan alasan dipilihnya Banyuwangi. Dalam pandangan Kemenlu, terang Nety, Banyuwangi adalah satu daerah di Indonesia yang mulai memasuki revolusi industri 4.0. Pemerintahannya sudah menerapkan e-government, dimana pelayanan publiknya dijalankan dengan menggunakan TIK dan serba digital.

“Kami kenalkan kepada mereka, daerah di Indonesia yang tengah berkembang dengan menggunakan TIK. Sebuah daerah seperti gambaran dalam revolusi industri 4.0. Sehingga mereka bisa melihat langsung praktek penerapan revolusi industri 4.0 di pemerintahan,” ujar Nety.

Para diplomat junior ini berada di Banyuwangi selama tiga hari, dari 6-8 Oktober. Mereka mengunjungi pusat-pusat pelayanan publik, seperti Lounge Pelayanan Publik, Mall Pelayanan Publik, dan Pendopo Kabupaten.

“Tempat-tempat ini adalah representasi penggunaan TIK dalam pelayanan publik. Seperti di Lounge ini, bisa dimonitor progress pembangunan fisik desa, progress keuangan daerah real time, maupun data-data kemiskinan,” jelas Nety.

Salah satu peserta diklat, Long Vathana dari Kamboja mengaku terkesan dengan cara Banyuwangi memanfaatkan IT untuk percepatan pelayanan publik.

“Kami bisa mengakses data-data yang dibutuhkan. Monitoring pembangunan desa juga bisa dipantau di sini. Ini yang mengesankan bagi kami,” kata Long.  

Peserta dari Myanmar, Chaw Su Maung, juga mengungkapkan hal serupa. Dia mengapresiasi inovasi Smart Kampung yang memungkinkan pelayanan berbasis IT hingga ke tingkat desa.  

“Ini bikin urusan warga jadi lebih mudah. Urusan surat menyurat cukup di urus di tingkat desa. Dengan IT semua jadi praktis,” ujar Su.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan bahwa kehadiran diplomat junior dari berbagai negara ASEAN ini dimanfaatkan untuk sharing pengembangan daerah dari negara ASEAN lainnya.

"Praktek-praktek pengembangan daerah dari negara ASEAN lain tentunya kami butuhkan untuk mempercepat pelayanan publik. Apa yang baik dari sana, akan kami gunakan untuk menyempurnakan kekurangan yang ada di Banyuwangi,” kata Anas.   

Anas juga menyatakan terima kasih kepada Kemenlu yang telah mengajak jajaran diplomat ASEAN ke Banyuwangi. "Kami berharap saat kembali ke negara asalnya para diplomat junior ini bisa ikut mempromosikan Banyuwangi," pungkas Anas. kbc9

Bagikan artikel ini: