Aturan pemerintah diperlonggar, Crown Group genjot penjualan properti di Indonesia

Rabu, 9 Oktober 2019 | 21:55 WIB ET
Deputy Project Sales Director Crown Group, Jefry Irawan (kiri) bersama GM Strategic and Corporate Communication Indonesia-Crown Group, Bagus Sukmana.
Deputy Project Sales Director Crown Group, Jefry Irawan (kiri) bersama GM Strategic and Corporate Communication Indonesia-Crown Group, Bagus Sukmana.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pengembang properti di Australia, Crown Group kembali gencar membidik konsumen di sejumlah daerah di Indonesia, salah satunya Jawa Timur.

Hal ini menyusul kembali menggeliatnya pasar properti Australia, pasca kebijakan pemerintah dalam memperlonggar sejumlah kebijakan pengetatan pada pembiayaan properti.

Deputy Project Sales Director Crown Group, Jefry Irawan menuturkan, pada Mei 2019 lalu pemerintah Australia merilis aturan pelonggaran yang selama ini menjadi penghambat pasar properti di wilayah itu. Seperti terkait bunga perbankan, mulai pemangkasan suku bungam hingga jenis angsuran kredit yang sebelumnya dibayar bersamaan dengan utang pokok, saat ini aturan itu dicabut dan angsuran dalam 10 tahun pertama hanya bayar bunga.

"Kebijakan ini sangat membantu pasar properti, dan bagi Crown Group sendiri sangat berdampak, dimana penjualan juga mulai bangkit," katanya di Surabaya, Rabu (9/10/2019).

Soal besaran suku bunga, lanjut dia, rata-rata perbankan hanya mematok sekitar 3 persen dan fixed selama 3 tahun. Selanjutnya bunga kredit perbankan hanya di kisaran 4 persen. "Ini sangat murah dibanding negara lain," tegas Jefry.

Dikatakannya, sinyal membaiknya pasar properti di Australia juga terlihat dari pertumbuhan penjualan pada September 2019 lalu yang naik sekitar 1,8 persen. Angka ini sangat besar bagi sebuah penjualan properti sekelas Crown Group.

Jefry mengaku sangat optimis karena melihat fundamental ekonomi Australia masih sehat,  pertumbuhan ekonomi solid, suku bunga dan inflasi rendah, pengangguran masih rendah dan setiap kebijakan telah menanamkan rasa percaya diri bagi pembeli.

"Dengan kondisi ini, kami memproyeksi pertumbuhan Crown Group hingga akhir tahun ini bisa lebih dari 6 persen. Dengan besaran pertumbuhan ini, saya kira pasar properti di Australia cukup bagus dan masih diminati," ujarnya.

Minat properti Australia sendiri, menurutnya, bukan saja dari pembelii lokal di sana, namun juga pembeli dari negara lain. Jefry menyebut, porsi pembeli dari negara lain selama ini cukup besar yakni sekitar 40 persen.

Dari porsi tersebut, Indonesia menempati rangking kedua setelah China. Setelah itu ada Malaysia, Thailand, Brasil hingga Jepang. "Cukup diminatinya properti di Australia oleh pembeli asal Asia karena kondisi cuaca dan gaya hidup negara ini mirip dengan di Eropa atau Amerika, namun lokasinya masuk Asia.

"Makanya kami sangat optimis penjualan Crown Group di Indonesia masih potensial. Kami pun gencar melakukan penetrasi pasar, selain ke Jakarta, Medan, Bandung, juga Jawa Timur," tandasnya.

Bahkan Jefry menyebut, minat pembeli dari berbagai daerah di Jatim, selain Surabaya seperti Malang, Kediri, Banyuwangi cukup tinggi. Demikian juga pembeli dari wilayah Indonesia Timur, seperti Bali, Makasar, bahkan Papua juga minatnya besar," ulasnya.

Sekadar diketahui, Crown Group telah memiliki sejumlah proyek yang saat ini masih tersisa unit untuk dijual, seperti proyek ikonik di Sydney, yaitu Eastlakes Live!, Mastery by Crown Group di kawasan Waterloo, Infinity by Crown Group, dan sebagainya.

Dan kini Crown Group tengah menyiapkan diri menjadi pemain global di pasar properti dunia, dengan ekspansi di empat lokasi yang terletak di 3 negara berbeda, yaitu Melbourne dan Brisbane di Australia, Los Angeles di Amerika Serikat dan Jakarta, Indonesia. Total investasi untuk 4 proyek prestisius tersebut mencapai Rp 50 triliun. kbc7

Bagikan artikel ini: