Pasar di Jatim potensial, APPI geber pameran 'Multifinance Day'

Rabu, 9 Oktober 2019 | 22:24 WIB ET
Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK Bambang W Budiman didiampingi Ketua Umum APPI, Suwandi Wiratno (tiga dari kiri) saat meninjau peserta 'Multifinance Day' di Surabaya.
Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK Bambang W Budiman didiampingi Ketua Umum APPI, Suwandi Wiratno (tiga dari kiri) saat meninjau peserta 'Multifinance Day' di Surabaya.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Jawa Timur dinilai menjadi pasar potensial bagi bisnis perusahaan pembiayaan alias multifinance. Selain populasi penduduknya yang besar, tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan cukup tinggi.

Oleh karenanya, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menggelar pameran bertajuk Multifinance Day di Atrium Tunjungan Plaza 3 Surabaya pada 9-13 Oktober 2019.

Ketua Umum APPI, Suwandi Wiratno, mengatakan, pameran yang diikuti oleh 25 perusahaan pembiayaan itu bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan yang saat ini masih cukup rendah di masyarakat sekaligus upaya untuk memperkenalkan berbagai produk perusahaan pembiayaan.

"Ini akan menjadi agenda rutin tahunan APPI bersama OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Sebelum di Surabaya, kami telah menggelar acara ini di Lampung, Bogor, dan Makasar. Dan hasilnya kami bersyukur respon konsumen cukup baik," katanya pada press conference 'Multifinance Day', Rabu (9/10/2019).

Dia berharap dengan digelarnya even ini, masyarakat Jawa Timur akan lebih memahami produk dan jasa dari perusahaan pembiayaan, sehingga nantinya ketika mereka mengajukan pembiayaan, bisa lebih mengerti dan tak terjebak di perusahaan pembiayaan ilegal atau abal-abal.

"Pada even ini, selain digeber beragam promo dari para perusahaan pembiayaan seperti cashback, uang muka ringan, bunga kompetitif, dan sebagainya, juga digelar seminar terkait literasi keuangan, dan kerja sama APPI dengan Polri," bebernya.

Sementara itu terkait potensi bisnis pembiayaan di Jawa Timur, Suwandi menuturkan, jika Jatim merupakan pasar potensial dan terbesar kedua setelah Jakarta. Sumbangan transaksi pembiayaan di Jatim rata-rata setiap tahun di kisaran Rp 30 triliun hingga Rp 40 triliun, terhadap total transaksi pembiayaan nasional yang berada di kisaran Rp 200 triliun sampai Rp 230 triliun.

"Jadi Jawa Timur terutama Surabaya ini menjadi target kami untuk melakukan pendekatan pasar karena potensinya yang besar itu," ujarnya.

Suwandi menambahkan, melalui pameran ini APPI yang juga didukung oleh 25 perusahaan pembiayaan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemkumham) mendorong peningkatan literasi keuangan di kalangan masyarakat terkait dengan perusahaan pembiayaan serta produk-produk dan mekanisme bertransaksi dengan perusahaan pembiayaan yang memang perlu dipahami oleh masyarakat secara luas.

"Seperti hal terkecil tentang penyebutan untuk perusahaan pembiayaan, yang selama ini masyarakat mengenal leasing untuk menyebut perusahaan pembiayaan. Padahal leasing itu hanya kegiatannya. Sebenarnya, istilah leasing biasanya digunakan untuk pembiayaan alat berat. Namun, istilah itu justru populer untuk pembiayaan kendaran bermotor," papar Suwandi.

Mengacu pada OJK, perusaahaan pembiayaan atau multifinance merupakan badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang dan atau jasa. Keberadaan perusaahan pembiayaan juga sudah lama, yakni sekitar tahun 1974. Ini seiring dengan terbitnya SKB Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan tentang perizinan usaha leasing (sewa guna usaha).

"Meski kami sudah lama, tapi masih banyak yang belum tahu persis perusahaan pembiayaan. Masyarakat perlu mengetahui hal semacam itu disamping hal-hal lain seperti hak dan kewajiban mereka saat melakukan transaksi dengan perusahaan pembiayaan. Harapan kita bisnis ini bisa tetap tumbuh dan memberikan kontribusi pada pembangunan nasional kita melalui pajak dari bisnis ini," terang Suwandi.

Suwandi menambahkan,  peluang untuk tetap tumbuh bagi bisnis pembiayaan masih terbuka lebar. Meskipun sampai September 2019 lalu pertumbuhannya mencapai 4,18 persen, namun dia optimis sampai akhir tahun ini pertumbuhannya bisa digenjot hingga tembus 4,5 persen hingga 5 persen. "Harapan kita dengan pameran ini bisa menyumbang pertumbuhan tersebut," tandasnya.

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK, Bambang W Budiman, menjelaskan, kegiatan pameran APPI ini juga bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan di masyarakat terutama di wilayah kabupaten di Jatim yang sampai saat ini masih cukup rendah berdasarkan evaluasi kantor OJK di Jatim.

Karena itu, lanjut Bambang, kegiatan pameran semacam ini perlu juga dilakukan di kota-kota lain di wilayah kabupaten di Jatim, supaya masyarakat mengetahui berbagai produk perusahaan pembiayaan dan lainnya mengingat Jatim memiliki pertumbuhan bisnis pembiayaan yang cukup tinggi, bahkan pertumbuhannya selalu di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. kbc7

Bagikan artikel ini: