PLN targetkan terangi 78 ribu rumah di Papua pada 2020

Rabu, 9 Oktober 2019 | 22:36 WIB ET

 JAKARTA, kabarbisnis.com: PT PLN (Persero) berkomitmen untuk bisa mewujudkan cita-cita Indonesia terang secara berkeadilan. Salah satu fokus tugas yang dibebankan pada PT. PLN (Persero) Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua adalah menerangi wilayah Papua.

Direktur Bina Program Kelistrikan KESDM Jisman S mencatat, untuk mencapai Rasio Desa Berlistrik (RDB) 100% di Provinsi Papua dan Papua Barat pada 2020 nanti, masih ada 414 desa dengan lebih kurang 78.000 rumah yang harus dilistriki.

Berdasarkan data Kementrian ESDM, Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Provinsi Papua dan Papua Barat saat ini sebesar 98,3%, yang dicapai melalui kontribusi PLN (48,5%), program LTSHE (Lampu Tenaga Surya Hemat Energi) dari  Kementrian ESDM dan listrik swadaya inisiatif pemda-pemda setempat.  

Namun  menghadirkan terang di seluruh bumi Papua bukan masalah sederhana.  Tantangan penugasan PLN di Indonesia Timur, khususnya Papua untuk menuju RDB 100% adalah keterbatasan infratruktur karena sulitnya medan geografis, kerapatan hunian yang rendah, serta  kompetensi sumber daya manusia yang perlu ditingkatkan. 

Melalui tim surveyor program inisiatif strategis “Ekspedisi Papua Terang (EPT) 2018”, PLN mendapatkan data berapa desa yang harus dilistriki, berapa jumlah penduduknya, bagaimana tingkat ekonominya, dan sumber energi apa yang potensial.

Executive Vice President Operasi Regional Maluku Papua (OR-MP) Indradi Setiawan mengatakan, hasil survey  tim EPT  menjadi pembuka peta tentang berapa kapasitas listrik yang diperlukan untuk Papua, serta program dan jenis pembangkit apa yang cocok untuk  masing-masing lokasi. Dari sana pula PLN bisa menghitung keperluan SDM yang akan mengelola, serta bagaimana menyiapkan pembangunan dan materialnya. 

Wilayah Kerja PLN di Papua dan Papua Barat mencakup luar 546.633km2 yang mencakup 3.749 pulau. Dari ribuan pulau itu hanya 140 pulau yang berpenghuni, dan PLN sudah melistriki 128 di antaranya dengan pembangunan transmisi sepanjang 218 kms yang dilayani gardu.

128 pulau itu dilayani dengan 108 Sistem Kelistrikan, di mana 18 di antaranya merupakan Sistem Kelistrikan Besar (>2MW) dan 90 sisanya masuk Sistem Kelistrikan Kecil  dengan kapasitas kurang dari 2 MW. Total daya mampu dari 108 sistem kelistrikan itu  mencapai 358.97MW, dengan beban puncak 285.45 MW. Dibandingkan dengan Jakarta yang mencapai 20 ribu MW, angka ini tentu sangat kecil.

“Memang secara umum, kondisinya perlu ditingkatkan. Masalahnya pertumbuhan masing-masing  distrik itu tidak sama. Kami harus berhitung cermat. Kalau over investasi juga  bahaya, apalagi semua daerah itu masuk wilayah subsidi,” jelas Indradi. 

Dengan tantangan geografi, kerapatan hunian dan infrastruktur yang terbatas, Program 1000 Energi Terbarukan dipandang bisa menjadi solusi untuk percepatan elektrifikasi melalui implementasi model wireless electricity.  

Untuk itu sedapat mungkin PLN mengoptimalkan  energi lokal berbasis  energi baru terbarukan.  Optimalisasi energi lokal berbasis energi baru terbarukan diharapkan akan memperbaiki kinerja bauran energi sekaligus menurunkan biaya pokok penyediaan (BPP). 

Seperti dikutip dari laman PLN, rencana pembangunan pembangkit listrik  menuju rasio elektrifikasi 100% di  provinsi Papua dan Papua Barat diperkirakan  akan menelan investasi lebih kurang Rp1,9 triliun. Namun dalam masalah ini,  lanjut Indradi,  untuk wilayah timur Indonesia PLN memang tidak berorientasi  pada keuntungan bisnis semata.

 “Apapun, Papua adalah bagian dari  NKRI yang harus diperlakukan secara adil dan setara, agar masyarakatnya jangan terlalu ketinggalan dibandingkan dengan wilayah lain,” pungkasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: