Kementan dan IFAD cetak program wirausaha muda pertanian

Jum'at, 11 Oktober 2019 | 21:03 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) merangkul International Fund for Agricultural Development (IFAD) merilis program pengembangan kewirausahaan muda dan ketenagakerjaan di sektor pertanian (YESS/ Program Youth Enterprenuership and Employment Support Services). Program ini memprioritaskan pada pemberdayaan pemuda tani di pedesaan yang diantaranya dilaksanakan di tiga Kabupaten di Jawa Timur (Jatim)  .

 “Wirausaha sangat penting dalam pembangunan pertanian. Seperti kita tahu, nilai tambah ekonomi itu ada pada pengolahan (processing), bisa mencapai 100 %. Makanya, kita harus mengedukasi generasi sekarang (millenial) bahwa berusaha di sektor pertanian sangat menguntungkan," ujar Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman ketika merilis program YESS di Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Apalagi jika di hulu (budidaya) menggunakan pertanian modern dan di hilir (pengolahan) menggunakan teknologi canggih untuk pengemasan (packaging). "Sehingga nilai komoditas tersebut naik 50-100%, bahkan 200%," tuturnya.

Mentan menuturkan generasi millenial yang menjadi bonus demografi Indonesia di masa depan ini, perlu diyakinkan dan diberikan motivasi untuk mau serta bisa berusaha di sektor pertanian. "Banyak konglomerat dunia yang berhasil dengan modal seadanya, tetapi bisa berhasil. Contohnya Jack Ma. Kalau dia bisa berhasil, kenapa kita tidak,"tukasnya.

Mentan mengakui Kementan selalu memfasilitasi generasi millenial untuk bisa terjun menjadi wirausaha pertanian. "Kita fasilitasi mereka. Kita punya teknologi, kita punya bantuan alsintan, bibit gratis bahkan lakukan pendampingan. Sekarang pemuda tani tercatat hingga saat ini mencapai 500.000 dan jika itu bergerak bersama, maka tidaklah mustahil produksi bisa meningkat dan menjadi lumbung pangan dunia 2045," pesan Menteri Amran.

Salah satu upaya memfasilitasi kreativitas generasi millenial untuk berkarya dan berwirausaha di sektor pertanian adalah YESS  yang dibiayai IFAD. Tak kurang dari  US$ 55,3 juta  digelontorkan IFAD untuk program selama 6 tahun program berjalan (2019-2025).

"Pertanian di seluruh dunia menghadapi permasalahan yang sama, yaitu semakin kurangnya petani muda yang mau turun di sektor pertanian. Tetapi sekarang, dengan kemudahan teknologi, dan daya kreativitas yang tinggi dari generasi millenial, peluang menjadi wirausaha sektor pertanian terbuka lebar," tutur Manager IFAD Program YESS, Nicholas Syed.

Sayangnya, kemampuan mengakses pasar, permodalan hingga kualitas SDM sering menjadi penghambat berkembangnya usaha mereka. "Karenanya, IFAD memberikan stimulan dalam bentuk dana pengembangan bagi wirausahawan di Indonesia. Saya melihat, program wirausaha yang telah dirintis Kementerian ini sudah sangat baik dan bisa menjadi contoh," tambahnya.

Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Prof Dedi Nursyamsi mengapresiasi Program YESS sebagi upaya untuk menghasilkan wirausahawan millenial yang berkualitas di sektor pertanian. "Negara-negara yang berhasil membangun pertaniannya, ternyata sangat banyak pengusaha agrobisnisnya. Karena dengan adanya mereka, ekonomi di sektor pertanian bisa bergerak dan menggeliat," tuturnya.

Karenanya, melalui program YESS diharapkan akan terwujud  regenerasi pertanian, meningkatnya kompetensi sumberdaya manusia dari perdesaan, meningkatnya jumlah wirausaha muda di bidang pertanian.  Sehingga pertanian akan menjadi lapangan kerja menarik, prospektif dan menguntungkan, dan dapat berdampak pada penurunan angka pengangguran serta terjadinya urbanisasi.

"Program YESS in sangat mendukung dalam pengembangan sumberdaya manusia pertanian, dengan memberdayakan para pemuda tani untuk memanfaatkan sumberdaya alam pertanian di pedesaan, secara optimal, profesional, menguntungkan dan berkelanjutan tentunya mereka ini akan siap menghadapi era milenial," tutur Kepala Pusat Pendidikan Idha Widi Arsanti.

Program akan dilaksanakan di 4 (empat) propinsi pada 15 (limabelas) kabupaten; yaitu Propinsi Kalimantan Selatan (Kab Banjarbaru, Kab Tanah Laut dan Kab Tanah Bumbu); Propinsi Sulawesi Selatan (Kab Bantaeng, Kab. Bone, Kab Bulukumba dan Kab Maros); Propinsi Jawa Barat (Kab Sukabumi, Kab Cianjur, Kab Tasikmalaya dan Kab Subang); dan Propinsi Jawa Timur (Kab Malang, Kab Tulungagung dan Kab Pacitan).

Sasaran program adalah kaum muda di perdesaan dari keluarga kurang mampu; serta kaum muda yang beresiko besar terhadap kemiskinan. Target yang akan dicapai selama 6 tahun program ini adalah 320.000 generasi muda di perdesaan.

Dengan indikator utama kegiatan: (1) 32.500 orang memperoleh pekerjaan di sektor berbasis pertanian; (2) 33.500 orang pedesaan meningkat pendapatannya; (3) 50.600 orang mengembangkan usaha dibidang pertanian; (4) 100.000 orang mampu menggunakan jasa keuangan, 4.300 diantaranya rumah tangga migran muda; dan (5) 120.000 pemuda memperoleh pendidikan keuangan.

Indikator tersebut akan dicapai melalui empat (4) kegiatan utama yaitu; 1) Rural youth transition to work (peningkatan kapasitas pemuda perdesaan di bidang pertanian); 2) Rural Youth Entrepeneurship (Pengembangan Wirausahawan Muda Perdesaan); 3) Investing to Rural Youth (Fasilitasi akses permodalan); serta 4) Enabling Environment fo Rural Youth (membangun lingkungan usaha yang kondusif). kbc11

Bagikan artikel ini: