Inovasi teknologi bikin produksi beras Merauke lampaui kebutuhan

Minggu, 13 Oktober 2019 | 05:52 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Peningkatan produktivitas padi di Merauke merupakan fakta yang tidak terbantahkan. Berbekal lebih dari 80% luasan lahan baku sawah Papua, Merauke telah berswasembada pangan. 

Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) di Merauke pun cukup berhasil dimana petani dapat mensiasati penanaman di musim rendeng dan musim gaduh. Beberapa kabupaten di sekitar Merauke seperti Mappi dan Boven Digoel pun mendapatkan kebutuhan berasnya dari sini. 

Sentra padi Merauke di daerah Tanah Miring dan Semangga misalnya, terlihat seperti daerah di Pantura Jawa dimana hamparan padi akan nikmati di sepanjang jalan yang dialiri Sungai Maro. Lokasi tersebut terletak tidak terlalu jauh dari ibukota Kabupaten Merauke sehingga dapat dikunjungi bagi pihak yang ingin mengecek fakta swasembada beras di Merauke.

Konsumsi beras Merauke memang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia, hanya sekitar 25.000 ton per tahun. Sementara itu produksi begitu melimpah, lebih dari 60.000 ton pada tahun ini sehingga gudang Bulog sudah tidak dapat lagi menampung beras.

Peningkatan produksi beras ini merupakan hasil dari program strategis Kementan untuk mendukung program ketahanan pangan di Papua. Produksi beras yang memuaskan tersebut juga merupakan hasil dari kerja keras para pemangku kepentingan, mulai dari Pemda Kabupaten. Merauke, penyuluh lapang, Babinsa dan tentu saja para petani. 

Produk melimpah tersebut menyebabkan Rice Milling Unit (RMU) /penggilingan padi, gudang petani, semua penuh dengan beras. Hal ini pula yang menjadi penyebab harga pangan di Merauke adalah yang paling murah se-Tanah Papua.

Demikian kondisi eksisting yang disampaikan Kabid. TPH Dinas TPHBun Merauke, Ir. Daniel Hiariej  dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (12/10/2019) saat menerima kedatangan tim LPWP (Lumbung Pangan Wilayah Perbatasan) di Kab. Merauke. Sowan Tim LPWP ini dilakukan oleh Ka. BPTP Papua Dr. Muhammad Thamrin sebagai penanggungjawab kegiatan LPWP, LO Kab. Merauke Dr. Siska Tirajoh, Pelaksana Lapang Ka. IP2TP Merauke, Frans Palobo, SP, M.Si didampingi Tim Monev BBP2TP Bogor, Dr. Nandang Sunandar mantan Direktur Serealia, Ditjen TP Kementan periode 2015-2017.

Daniel mengatakan problematika pertanian Merauke dalam pemasaran adalah hal yang sangat vital. Bentang alam Papua yang luas turut menjadi kendala dalam pengiriman barang.

Jarak yang ditempuh serta akses darat yang masih belum optimal membuat ongkos transportasi membengkak. Sedangkan melalui jalur laut, hambatannya adalah Merauke berada di bagian selatan pulau, sehingga kapal laut harus memutar melalui laut Arafuru dan Papua Tengah serta memutari bagian kepala burung untuk bisa sampai di bagian utara Papua. 

Opsi lain adalah dengan pesawat udara yang tentu ongkos anggkutnya mahal. Kondisi tersebut menyebabkan harga beras Merauke pun akhirnya tidak bisa bersaing dengan beras yang didatangkan dari Jawa dan Sulawesi. Salah satu yang paling potensial yakni ekspor ke Negara tetangga, Papua New Guinea. Namun, regulasi terkait ekspor ini belum sepenuhnya dapat disepakati bersama antara RI dan PNG serta Australia.

Dalam rangkaian monev, Tim bertolak ke lokasi demarea inotek Turiman Pajale di Kampung Yabamaru, Tanah Miring. Inovasi teknologi Balitbangtan telah dimanfaatkan kelompok tani, terbukti memberikan hasil panen yang memuaskan, bahkan ubinan mencapai 7 ton/ha untuk Inpari 37 Lanrang.  Produksi melimpah Merauke adalah bukti kerja keras petani.

Menghargai jerih payah petani dengan memberikan akses pasar dan kepastian harga sangat dinantikan petani kita.  Senyuman yang tersungging dari bibir petani sesungguhnya adalah penciri dari kesejahteraan yang mereka dapatkan .kbc11

Bagikan artikel ini: