Bank Dunia: Pertumbuhan ekonomi Indonesia kalah dari Kamboja dan Papua Nugini

Senin, 14 Oktober 2019 | 07:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Dunia baru saja mengeluarkan laporan terbaru mengenai prospek pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Dalam laporan berjudul World Bank East Asia and Pacific Economic Update October 2019, Weathering Growing Risks ini terungkap bahwa pertumbuhan di wilayah ini akan turun 0,2 persen pada tahun ini, dari sebelumnya 6 persen menjadi 5,8 persen.

Salah satu negara yang perekonomiannya melemah adalah Indonesia, dimana Growth Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) menyusut dari 5,2 persen pada 2018 menjadi 5 persen di 2019. Bahkan, angka tersebut lebih rendah dari prediksi April lalu, yakni 5,1 persen.

Dalam laporan tersebut, Bank Dunia menuliskan, meski makroekonomi Indonesia yang kuat terus menopang pertumbuhan ekonomi, namun investasi tumbuh melambat pada tahun ini.

Catatan lainnya, meski prospek ekonomi terus menguat berkat permintaan domestik yang kuat, ketegangan perdagangan internasional dan volatilitas keuangan global tetap menjadi suatu tantangan yang menimbulkan risiko besar.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, posisi Indonesia terhitung masih tertinggal. Seperti Kamboja, yang terlihat masih superior meski pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan melemah, dari 7,5 persen (2018) menjadi 7 persen (2019).

Bahkan, Indonesia masih kalah jika dikomparasikan dengan Papua Nugini. Perekonomian negara itu diprediksi melonjak hebat, dari -0,5 persen (2018) menjadi 5,6 persen pada tahun ini.

Negara lainnya yang juga unggul dari Indonesia antara lain Laos (6,5 persen), Myanmar (6,6 persen), Filipina (5,8 persen), dan Vietnam (6,6 persen). Di sisi lain, posisi NKRI masih di atas beberapa negara besar Asia Tenggara seperti Malaysia (4,6 persen) dan Thailand (2,7 persen).

Untuk beberapa tahun ke depan, Bank Dunia meramal, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sedikit terangkat. Pada 2020, perekonomian kita bakal naik jadi 5,1 persen, dan kembali meningkat 1 persen di 2021 menjadi 5,2 persen.

Sebelumnya, Asian Development Bank (ADB) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 menjadi sebesar 5,1 persen dari sebelumnya 5,2 persen. Tidak hanya tahun ini, ADB juga merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan menjadi 5,2 persen.

Direktur ADB untuk Indonesia, Winfried Wicklein mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagian besar masih disumbang oleh konsumsi.

"Konsumsi yang kuat akan membuat Indonesia mampu meneruskan pertumbuhan ekonominya baik tahun ini dan tahun depan," ujarnya.

Winfried mengatakan, laju penumbuhan tahun ini yang sedikit lebih lambat mencerminkan penurunan ekspor dan melemahnya investasi domestik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2019 akan berada level 5,08 persen. Angka tersebut jauh di bawah target APBN sebesar 5,3 persen yang dikoreksi kembali pada Juli 

"Total 2019 dibulatkan satu digit 5,1 persen atau 5,08 persen itu adalah forecasting berarti outlook 5,2 persen masih kami taruh di sana tapi internal kita lihat di 5,08 persen," kata dia.

Dia menjelaskan, hal tersebut karena faktor-faktor pendorong ekonomi pada semester II/2019 diperkirakan akan melambat jauh dibanding realisasi yang terjadi pada semester I/2019. Dari sisi konsumsi, pada semester II/2019 diperkirakan hanya berada di kisaran bawah lima persen yakni 4,97 persen. kbc10

Bagikan artikel ini: