Uber telah pangkas 1.185 karyawan

Rabu, 16 Oktober 2019 | 06:06 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Uber kembali melakukan pemuusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 350 karyawan di sejumlah divisi mulai dari Uber Eats, marketing, technology group, perekrutan.

Seperti dikutp dari CNN, juru bicara Uber menyebutkan bahwa PHK ini merupakan gelombang ketiga dan terakhir sejak dimulai beberapa bulan lalu. 

Ini artinya Uber telah memangkas sekitar 1.185 karyawan karena sebelumnya, Uber sudah dua kali melakukan PHK dalam jangka waktu 4 bulan. Pada September Uber sudah memberhentikan 435 karyawan dari divisi produk dan teknis. Kemudian pada Juli Uber telah memangkas 400 orang dari divisi pemasaran. 

Selain PHK, Uber juga melakukan mutasi ke unit kerja di wilayah lain. Sebanyak 70% pegawai yang diberhentikan ini berada di Amerika Serikat (AS) dan Kanada. 

PHK yang dilakukan Uber terjadi karena perusahaan berupaya untuk membenahi kondisi keuangannya setelah dihantam sejumlah tekanan pada Mei lalu. Manajemen Uber mengirimkan surat elektronik kepada 350 karyawan yang diberhentikan. 

"Seperti yang anda ketahui, selama beberapa bulan terakhir. Pimpinan kami telah melihat dengan cermat dan memastikan perusahaan agar lebih terstruktur dan sukses beberapa tahun ke depan. Hal ini merupakan hal yang sulit, tetapi kami perlu peran orang yang tepat," kata CEO Uber Dara Khosrowshahi dalam emailnya, seperti dikutip Selasa (15/10/2019).

Dia menambahkan, hari-hari yang dilalui oleh tim Uber beberapa waktu terakhir terbilang sulit. Namun dia memastikan jika perusahaan tak akan melakukan hal ini lagi ke depannya. 

Menurut Dara, setiap orang yang bekerja memiliki peran masing-masing untuk mendapatkan kesempatan baru agar perusahaan tetap tumbuh. Dalam surat juga menyebut, akan ada pertemuan bagi pegawai dan manajemen untuk diskusi terkait pemangkasan ini. 

Hal ini terjadi sejak IPO yang tak cemerlang. Padahal Uber terus berupaya untuk mendapatkan investor di pasar modal, namun pada Agustus Uber mencatatkan kerugian terbesar yakni US$ 5,2 miliar dalam tiga bulan terakhir. kbc10

Bagikan artikel ini: