Begini penerapan biopestisida di lahan pertanian rawa

Kamis, 17 Oktober 2019 | 17:23 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan salah satu ancaman serius yang dapat mengurangi hasil panen dan bahkan menyebabkan gagal panen. Aplikasi kimiawi yang sering diterapkan petani untuk menangani OPT dapat berdampak negatif pada lingkungan, menurunkan mutu pangan karena cemaran pestisida, dan mengancam kesehatan petani. 

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memberikan contoh nyata di Demfarm Jejangkit bagaimana biopestisida berbasis sumberdaya setempat dapat diterapkan di lahan rawa.Hari Pangan Sedunia (HPS) tahun 2018 di Desa Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan (Kalsel) adalah titik nadir. 

Sebagai tindaklanjut dari keberhasilan HPS Jejangkit tersebut, mulai tahun 2019 Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman mencanangkan Program SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani) yang akan memanfaatkan 500 ribu lahan rawa pasang surut di Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Program SERASI merupakan top kegiatan di Kementan saat ini.Sentuhan teknologi pertanian akan mengubah lahan rawa menjadi primadona pemenuhan pangan nasional.

Adalah Balitbangtan yang melahirkan teknologi inovatif untuk meningkatkan produksi pangan dan kualitasnya. Peran yang sangat penting diemban Balitbangtan untuk membangunkan lahan rawa, menggerakkannya sehingga menjadi lahan yang produktif dan menghasilkan.

Dalam budidaya tanaman, penggunaan sarana produksi pestisida kimiawi tidak dapat dihindari selain mudah mendapatkannya juga cepat menunjukkan hasil. Seorang petani penggarap di lahan rawa menuturkan bahwa selama ini dia menggunakan pestisida kimiawi untuk mengendalikan OPT.

Penggunaan pestisida kimiawi memang nyata memberikan kontribusi terhadap stabilitas hasil tanaman pertanian termasuk tanaman pangan dan hortikultura. Namun penggunaan pestisida kimiawi yang tidak tepat dan cenderung berlebihan akan berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Sebut saja resurjensi hama tertentu, terbunuhnya organisme menguntungkan non target, kontaminasi dan cemaran residu dalam tanah, air, dan produk pertanian.

Hal ini diperparah dengan hampir sebagian besar petani kita belum mematuhi tata cara penyemprotan pestisida kimiawi yang benar. Pestisida oplosan sering dijumpai dalam praktek pengendalian dan pemberantasan OPT.

Pada Program SERASI, keamanan pangan sangat diperhatikan. Salah satunya dengan menyediakan teknologi inovatif pengendalian OPT berbahan baku alami. Bahan-bahan alami potensial menggantikan pestisida kimiawi tersedia melimpah dan mudah diperoleh di sekitar lingkungan kegiatan pertanian.

Balitbangtan mengembangkan pestisida nabati berbahan sumberdaya lokal (daun mimba, kunyit, urin sapi dan asap cair) yang diperkaya mikroba atau lazim disebut sebagai biopestisida Balingtan. Biopestisida tersebut mempunyai keunggulan antara lain menambah kekebalan tanaman terhadap serangan OPT, meningkatkan kesuburan lahan, mengurangi pencemaran residu pestisida dan meningkatkan produksi tanaman. 

Pemberian pestisida nabati secara terus menerus tidak meninggalkan residu dalam tanah dan produk tanaman serta relatif mudah terdegradasi.Kepala Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan)  Mas Teddy Sutriadi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (17/10/2019) menjelaskan, biopestisida telah banyak digunakan oleh kelompok tani di Kabupaten Pati dan sekitarnya. Kelompok tani dampingan Balingtan menghasilkan 10,15 ton/ha gabah dengan aplikasi biopestisida, petani yang lainnya (pestisida kimia-red) hanya 7,76 ton/ha. 

Biopestisida Balingtan juga digunakan untuk kegiatan Blok Program di Lampung dan Grobogan. "Hasilnya sangat memuaskan, di Margototo, Lampung hasil jagung mencapai 21 ton/ha tongkol kering. Sementara di Grobogan, hasil padi mencapai 6,92 ton/ha," ujarnya 

Pada Program SERASI, Balitbangtan menggunakan biopestisida Balingtan sebagai salah satu pengendalian OPT melalui salah satu kegiatan superimposed-nya. Pada luasan lebih dari 2.000 m2 biopestisida diaplikasikan dan hasilnya mampu mengurangi serangan OPT.

Sri Wahyuni, peneliti Balitbangtan melaporkan penggunaan biopestisida mampu menurunkan 50% serangan OPT jika dibandingkan dengan penggunaan pestisida kimiawi. Pada biopestisida, kandungan azadirachtin pada ekstrak mimba yang berfungsi sebagai penolak makan, repelen, toksikan dan pengganggu pertumbuhan OPT.

Selain itu, penggunaan daun galam sebagai bahan baku biopestisida di lahan rawa juga memperlihatkan hasil yang cukup memuaskan. Serangan OPT turun 20% dengan aplikasi biopestisida galam. Ekstrak galam efektif membunuh ulat Spodptera exigua. Karena punya sifat racun perut, ulat akan mati dalam 3 hari setelah terkena ekstrak galam.

Produk pangan yang berkualitas menjadi salah satu daya tarik konsumen terlebih dengan terbukanya persaingan global. Teknologi pertanian inovatif ramah lingkungan sangat dibutuhkan dan Balitbangtan telah menyediakannya. Inilah SERASI.kbc11

Bagikan artikel ini: