Khofifah: Industri perhiasan di Jatim bisa jadi destinasi wisata

Kamis, 17 Oktober 2019 | 20:33 WIB ET
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jatim Arumi Bachsin saat meninjau produk peserta SIJF 2019.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jatim Arumi Bachsin saat meninjau produk peserta SIJF 2019.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Surabaya kembali menjadi salah satu kota digelarnya even pameran emas terbesar di Indonesia, bertajuk Surabaya International Jewellery Fair 2019 (SIJF). Ajang ke-24 ini sekaligus memperingati HUT ke-74 Provinsi Jatim dan berlangsung di Shangri-La Hotel Surabaya.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dalam sambutannya menyampaikan, bahwa perkembangan industri perhiasan Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kontribusi Jatim. Dimana industri perhiasan Jatim, dimana pada semester I tahun 2019 berkontribusi sekitar 49,65% terhadap produksi perhiasan nasional

 Hal ini didukung oleh 32 unit industri perhiasan skala besar dan menengah dan 513 unit industri perhiasan skala kecil yang didominasi oleh industri barang perhiasan dan logam mulia.

“Tentunya industri perhiasan Jatim tidak hanya memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi termasuk PDRB, tapi ini juga akan menjadi referensi dunia terhadap industri emas dan perhiasan, apalagi saat ini Indonesia ada di peringkat sembilan industri perhiasan dunia. Kami harap ini menjadi daya dorong dan daya ungkit perekonomian kita,” kata Khofifah usai membuka SIJF 2019 di Surabaya, Kamis (17/10/2019).

Khofifah melihat ada potensi pariwisata yang bisa dikembangkan dari geliat industri perhiasan di Jawa Timur. Dia bilang, tempat pengrajin perhiasan, baik itu batu mulia, emas, dan lainnya, bisa dijadikan destinasi untuk wisatawan mancanegara dan nusantara.

"Negara Asia maupun Eropa telah menyiapkan ruang di mana di industri-industri perhiasan dan emas itu disiapkan titik wisata dengan menunjukkan dan menjelaskan bagaimana proses pembuatannya," ucap Khofifah.

Dengan mendengar penjelasan seperti jumlah karatnya sampai dengan cerita di balik proses pembuatannya, wisatawan diharapkan tertarik untuk datang dan membeli produk tersebut.

Apalagi produk perhiasan Jawa Timur digemari karena handmade, dan bentuknya yang unik berunsur budaya. Selain itu, Jawa Timur juga kaya dengan berbagai batu mulia, satu di antaranya dari Pacitan.

"Mereka mungkin terkesima melihat etnik dan detail model dari negara-negara tertentu, termasuk dari Jawa Timur," lanjut mantan Menteri Sosial ini.

Ke depannya, Khofifah Indar Parawansa akan memasukkan pengrajin perhiasan ke dalam katalog destinasi wisata di Jawa Timur, yang diharapkan akan semakin banyak alternatif destinasi wisata, sehingga spending time atau waktu tinggal para wisatawan di Jawa Timur ikut naik.

Dengan memasukkan industri emas dan perhiasan sebagai salah satu tujuan wisata, Khofifah berharap hal ini dapat meningkatkan tingkat hunian hotel dan menambah waktu tinggal (length of stay) wisatawan terutama wisatawan mancanegara di Jatim.

“Jadi kunjungan ke tempat pemrosesan perhiasan ini bisa dimasukkan dalam katalog paket wisata. Selain itu kita juga bisa mengundang buyer baik dari dalam maupun luar negeri untuk melihat bagaimana uniknya perhiasan kita apalagi yang handmade. Bila hal ini sudah dilakukan, mohon ditingkatkan, diluaskan dan dikembangkan. Tapi jika belum mohon hal ini disiapkan,” katanya.

Permintaan produk perhiasan Jatim terutama untuk ekspor ke mancanegara, sebut Khofifah, terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor produk perhiasan/permata Jatim pada periode Januari-September 2019 telah mencapai US$2,59 miliar atau meningkat 19,88% dibandingkan periode tahun 2018.

Sedangkan produk perhiasan dari logam mulia lainnya, barang perhiasan disepuh atau dipalut dengan logam mulia atau tidak  pada periode Januari s/d September mencapai US$1,43 miliar atau meningkat 71,31% dibanding periode yang sama tahun 2018 sebesar US$1,02 miliar.

Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI), Iskandar Husin menegaskan, pihaknya terus berkomitmen untuk mendorong industri perhiasan di dalam negeri termasuk pengrajin kecil. 

"Para pengrajin emas ini memiliki kreativitas tinggi, dan mereka harus dilibatkan dalam ajang seperti ini. Kita punya segalanya terutama bahan baku seperti batu-batuan, emas, perak dan SDM. Yang harus ditingkatkan adalah pembinaan, juga pengetahuan terkait pasar dan promosi. Makanya pameran seperti ini aktif kita gelar," jelas Iskandar yang juga selaku penanggung jawab penyelenggara SIJF 2019.

Ditambahkannya, dalam SIJF yang berlangsung pada 17-20 Oktober 2019 tersebut, berbagai tipe perhiasan model terkini standar internasional sampai buatan lokal yang tradisional dan artistik dipamerkan. Para peserta terdiri dari 100 pengusaha baik dari industri perhiasan sampai dengan pengrajin IKM baik binaan dari Kementerian Perindustrian maupun Pemprov Jawa Timur dan berbagai pemerintah daerah di Indonesia. Selain perhiasan, dipamerkan pula mesin dan peralatan pembuatan perhiasan logam. kbc7

Bagikan artikel ini: