Produksi minyak sawit nasional capai 34,7 juta ton

Kamis, 17 Oktober 2019 | 22:20 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Produksi minyak sawit Indonesia sampai dengan Agustus 2019 mencapai 34,7 juta ton atau sekitar 14% lebih tinggi dari produksi periode yang sama tahun 2018. Produksi bulan Agustus naik 8,7% dibandingkan produksi bulan Juli. 

Kenaikan produksi dijumpai hampir di semua sentra produsen sawit. "Pada periode ini sebenarnya iklim kurang bersahabat untuk kelapa sawit, terutama terjadinya kekeringan di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan, tetapi efek kekeringan tersebut baru akan terasa satu atau dua tahun kemudian,"ujar Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sarjono kepada wartawan di Jakarta, Kamis (17/10/2019).

Sementara, konsumsi domestik sampai Agustus 2019 tercatat mencapai 11,73 juta ton atau tumbuh 41,6% dibanding konsumsi periode yang sama tahun lalu sebanyak 8,28 juta ton. Mukti mengemukakan pertumbuhan ini tidak lepas dari serapan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO untuk program biodiesel 20% (B20) yang berjalan tahun ini.

"Kebijakan B20 yang sepanjang 2019 ini sudah menyerap CPO lebih dari 4 juta ton. Sampai akhir tahun, serapan dalam negeri untuk biodiesel bisa bertambah 6,4 juta ton," kata Mukti, Kamis (17/10/2019).

Mukti menambahkan CPO dalam negeri diproyeksikan akan meningkat pada 2020 mendatang seiring diberlakukannya mandatori B30. Mukti memperkirakan akan ada tambahan serapan CPO domestik sebanyak 3 juta ton dari program ini sehingga konsumsi dalam negeri bisa bertambah 9,4 juta ton.

"Kalau ini [B30] diterapkan, kemungkinan ada peningkatan di dalam negeri dan sedikit mengurangi ekspor. Kami harapkan dengan adanya ini harga menjadi membaik," sambung Mukti

Berkaitan ekspor minyak sawit Indonesia , Mukti mengatakan volume ekspor mencapai 22,7 juta ton atau sekitar 3,8% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Volume ekspor minyak sawit bulan Agustus 1% lebih rendah dibandingkan dengan ekspor bulan Juli walaupun harga rata-rata CPO pada bulan Agustus sekitar US$40-50 lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada bulan Juli. Volume ekspor CPO turun sebesar 95 ribu ton yang terkompensasi dengan kenaikan ekspor produk turunannya sebesar 90 ribu ton. 

China dan India masih merupakan tujuan ekspor utama. Kenaikan ekspor terbesar terjadi dengan destinasi China yang naik dengan 150 ribu ton dan ke Timur Tengah yang naiik dengan 110 ribu ton dan ke USA yang naik dengan 90 ribu ton. Penurunan ekspor juga terjadi dengan tujuan India, Bangladesh, Pakistan dan EU. 

Pada bulan Agustus ekspor biodiesel mengalami penurunan dibandingkan bulan Juli yaitu dari 187 ribu ton menjadi 162 ribu ton, tidak tercatat adanya ekspor biodiesel ke EU." Stok minyak nasional akhir Agustus diperkiran naik menjadi 3,8 juta ton atau bertambah sekitar 100 ribu ton dari  stok bulan Juli dan ini merupakan stok tertinggi tahun ini," terangnya.

Harga rata-rata CPO CIF Rotterdam bulan Agustus mencapai US$541 per metric ton dan merupakan rata-rata bulanan tertinggi sejak Februari 2019. "Di akhir Agustus harga masih menunjukkan tren naik, kita berharap harga terus naik. Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit perlu memperkuat pengaruhnya dalam  kesimbangan supply-demand dan pembentukkan harga. Implementasi B20 dan segera dengan B30 pasti akan  meningkatkan konsumsi dalam negeri," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: