Kaum milenial diyakini bakal dongkrak pertumbuhan KPR

Jum'at, 18 Oktober 2019 | 08:15 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) meyakini kaum milenial akan menjadi penopang pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di perbankan, seiring dengan tren kebutuhan perumahan. KPR bahkan diprediksi bisa melebihi target pertumbuhan kredit sebesar 10-11 persen meski saat ini trennya masih melambat.

Direktur sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Makro Prudential BI, Retno Ponco Windarti mengatakan, proyeksi dibuat dengan melihat kondisi demografi Indonesia. Saat ini penduduk Indonesia banyak didominasi kalangan milenial.

Namun, mayoritas di antara mereka belum memiliki kemampuan untuk membeli rumah. "Kebutuhan milenial itu demand terbesar sekarang dan ke depan lebih besar lagi. Jadi itu yang harus disentuh dengan membuat matching antara kebutuhan milenial dengan konsep pembiayaan," ucap Retno, Kamis (17/10/2019).

Retno mengatakan saat ini bank perlu meracik fasilitas kredit yang menarik. Fasilitas yang diracik juga perlu disesuaikan dengan daya beli para milenial.

Pasalnya, milenial umumnya merupakan pekerja baru. Kondisi tersebut membuat dana yang mereka miliki untuk membeli rumah masih terbatas. 

"Tentu butuh kerja sama otoritas dengan pelaku pasar karena konsepnya sebenarnya sudah ada dengan melihat potret kebutuhan milenial saat ini," ungkapnya.

Ia mengatakan saat ini pertumbuhan KPR bank harus didorong demi menopang pertumbuhan kredit nasional. Maklum, KPR merupakan segmen kredit yang biasanya memiliki pertumbuhan dan kontribusi yang tinggi.

"KPR ini leading sector, makanya BI concern dengan properti karena dia sektor yang punya backward dan forward yang sangat besar. Begitu dia bergerak, yang lain juga bergerak," tuturnya.

Meskipun demikian, ia mengakui mendorong pertumbuhan bukan pekerjaan mudah karena saat ini kondisi ekonomi global dan nasional sedang 'mendung'. Kondisi yang lesu tersebut ia ramal bakal mempengaruhi daya beli masyarakat.

Di tengah tantangan itu, Retno mengatakan bank sentral nasional sejatinya sudah berusaha membantu pertumbuhan KPR. Bantuan diberikan melalui kebijakan pelonggaran tingkat suku bunga acuan hingga perubahan rasio pinjaman (Loan to Value/LTV) bagi sektor perumahan, hingga menurunkan tingkat uang muka (Down Payment/DP) bagi pembelian rumah kedua.

Namun, Retno turut mengakui ada tantangan lain dari sektor perbankan. Saat ini bunga KPR belum turun tajam, meski BI sudah menurunkan tingkat bunga acuannya. 

"Tapi memang penentuanbungaKPR dari bank tidak diubah setiap hari, biasanya lebih cepat untuk kredit baru dan setiap bank punya variasi yang berbeda," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: