Neraca perdagangan rapor merah, ekonomi RI kuartal III tumbuh melambat

Senin, 21 Oktober 2019 | 07:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Economic Action Indonesia (EconAct) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat di kuartal III 2019 pada kisaran maksimal hanya 5,0 persen.

"Melihat perkembangan ekonomi beberapa bulan ke belakang, baik di ranah domestik apalagi di ranah global, nampaknya raihan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III tahun ini akan melambat. Saya perkirakan raihannya di kisaran 4,95-5,0 persen," kata Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia (EconAct) Ronny P Sasmita, akhir pekan lalu.

Dia mengungkapkan, salah satu faktor yang paling tertekan dalam pertumbuhan ekonomi yang melemah ini adalah dari sisi ekspor-impor. Menurutnya, neraca dagang dalam beberapa bulan terakhir masih diselimuti rapor merah.

"Pelemahan yang terjadi hampir di seluruh dunia membuat pasar ekspor nasional semakin tertekan. Begitu pula dengan harga komoditas yang fluktuatif," ungkap dia.

"Prospek ekspor nasional akan terus berada di bawah tekanan ekonomi global, mengingat proyeksi pertumbuhan ekonomi di negara-negara mitra dagang juga makin melemah," dia menambahkan.

Dia menyatakan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga diperkirakan akan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, meskipun kontribusinya masih yang terbesar yakni di kisaran 56 persen. Begitu juga dengan pertumbuhan investasi yang diperkirakan berjapan moderat saja, tak terlalu berbeda dengan kuartal kedua.

Di ranah domestik, ia menyebutkan, investor masih terus menunggu kepastian hukum dan politik. Sementara itu, ia meneruskan, penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen dampaknya baru akan terasa di kuartal IV nanti.

"Dari sisi investasi asing, Indonesia harus bersaing secara ketat dengan negara-negara tetangga untuk mendapat berkah investasi imbas dari perang dagang," tandas Ronny.

Lalu dari sisi belanja pemerintah, Ronny memprediksi, pertumbuhannya akan sedikit turun sebagai imbas dari ketidakpastian pendapatan negara dari sektor pajak.

"Sampai jelang akhir kuartal III saja tanda-tanda penerimaan negara akan kena target masih belum terlihat. Kondisi ini akan membuat pemerintah sedikit konservatif dalam berbelanja," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: