Anggota DPR Mufti Anam: Santri dan nasionalis-Sukarnois kompak seperti truk gandeng

Selasa, 22 Oktober 2019 | 18:29 WIB ET
Anggota DPR Mufti Anam
Anggota DPR Mufti Anam

SURABAYA - Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober adalah momentum untuk semakin memperkuat gerak gotong royong antara kaum santri dan nasionalis-Sukarnois.

Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, mengatakan, selama ini ada upaya membangun narasi bahwa antara kaum religius dan nasionalis-Sukarnois tidak akan pernah bisa bertemu. Padahal, sejarah membuktikan bahwa berbagai fase kritis perjalanan bangsa ini hanya bisa dilalui karena kekompakan kaum nasionalis-Sukarnois dan santri.

“Cinta negeri itu bukan hanya soal ideologi, tapi juga manifestasi keimanan. Maka ketika Bung Karno bertanya tentang hukum membela negara bagi umat Islam kepada KH Hasyim Asyari, beliau tanpa ragu menjawab bahwa perjuangan membela tanah air adalah bagian dari jihad fisabilillah, hubbul wathon minal iman,” ujar Mufti Anam, Selasa (22/10/2019).

Mufti memaparkan, relasi intelektual Mbah Hasyim dan Bung Karno itulah yang kemudian melahirkan “Resolusi Jihad” yang mampu menggelorakan semangat rakyat melawan kolonialisme Belanda.

“Hari-hari ini, relasi Bung Karno dan Mbah Hasyim makin terasa relevan di tengah tantangan munculnya ideologi transnasional,” ujar mantan aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) tersebut.

“Intinya, menjadi muslim taat dan menjadi nasionalis itu bisa barengan kok, bukan dipertentangkan, bisa gandengan kayak truk gandeng yang kompak,” imbuh Mufti memberi ilustrasi.

Dia menambahkan, salah satu bukti kebersamaan kaum santri dan nasionalis-Sukarnois adalah ketika Indonesia mendapat tantangan perpecahan seperti pemberontakan DI/TII, kaum santri dan Nahdlatul Ulama menunjukkan komitmen kebangsaannya. Ketika itu, NU menunjukkan pembelaannya kepada Pancasila dan kepemimpinan Sukarno. NU menolak terlibat dalam DI/TII. 

“Bahkan, NU memberi gelar kepada Bung Karno sebagai waliyyul amri dharuri bi as-syaukah, kepala negara dan pemerintahan yang diakui NU dan segenap ulama. Apa yang dilakukan kaum santri dan nasionalis-Sukarnois di masa lalu itu, antara Bung Karno dan Mbah Hasyim, sangat relevan dilanjutkan saat ini untuk membentuk benteng ideologi menghadapi gempuran ideologi non-Pancasila,” ujar Mufti. kbc3

Bagikan artikel ini: