86.866 Ha areal pertanian gagal panen, lebih parah ketimbang tahun lalu

Selasa, 29 Oktober 2019 | 17:54 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Hingga 18 Oktober 2019, areal pertanian di sejumlah provinsi sebagai lumbung padi tercatat seluas 319.763 hektare (ha) mengalami terpapar kekeringan .Dari luas area pertanian itu  yang mengalami puso (gagal panen)  mencapai 86.866 hektare (ha).

Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui areal pertanian tahun 2019 yang terpapar kekeringan dan puso tahun 2019 ini lebih luas dibandingkan tahun 2018. “Meningkatnya (luas lahan red) lebih kurang dua kali lipat. Tahun lalu, areal persawahan yang mengalami kekeringan sebesar 185.162 ha dan puso 33.162 ha,” ujar Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementan Edy Purnawan kepada kabarbisnis.com di Jakarta, Selasa (29/10/2019).

Bahkan merujuk data Ditjen Perlindungan Lahan Tanaman Pangan Kementan menyebutkan luas pertanian yang mengalami  puso bertambah besar menjadi 125.662 ha karena disebabkan banjir. Adapun Provinsi di Jawa Timur, areal pertanian yang puso 9.373  ha, justru mengalami penurunan dibandingkan periode sama tahun 2018 sebesar 10.001 ha.

Edy memperkirakan besarnya luas areal sawah yang terkena kekeringan dan puso hingga 18 Oktober 2019 ini berpotensi menghilangkan hasil produksi padi sebesar 427.963 ton gabah kering giling (GKG).  Meski areal persawahan yang puso tahun 2019 lebih luas dibandingkan tahun 2018 lalu, menurut Edy jumlahnya hanya 2,78% dibandingkan luas tanam yang mencapai 11,5 juta ha. Karenanya, dia tidak mengkhawatirkan sawah yang terkena puso akan menggangu produksi padi nasional.

Kementan mematok target produksi padi tahun 2019 ini mencapai 83 juta ton gabah kering giling (GKG). Kendati Badan Pusat Statistik (BPS), melalui Kerangka Sampel Area (KSA) meramalkan produksi padi jauh lebih rendah yakni hanya 56,9 juta ton GKG.

Edy menambahkan Kementan bersama dinas pertanian , dinas PU, Poktan , Kodim dan Koramil telah menyiapkan strategi pengamanan produksi padi pada saat kekeringan.Untuk sawah yang mengalami puso, peserta yang telah mendaftar asuransi tani dapat mengajukan klaim sehingga mendapat penggantian Rp 6 juta per ha. “Bagi yang tidak mengikuti akan mendapatkan bantuan benih,” kata Edy.

Sementara bagi daerah yang belum mengalami puso, Kementan telah menyiapkan sumur suntik, pompa , traktor roda 4 , traktor roda 2, selang pipa dan normalisasi saluran. Selain itu, adaptasi mitigasi kekeringan melalui optimalisasi lahan dengan keterbatasan air melalui sistem tabela.

“Khusus Ditjen Tanaman Pangan, kita sudah mengirimkan pompa sebesar 1.030 unit dan segera menyusul 800 unit lagi dikirim tanggal 11 November 2019. Untuk satu pompa bisa mengairi persawahan seluas 4 ha. Sementara bagi daerah yang kekeringan sumber daya air, kita juga buatkan sumur suntik . Gapoktan bisa mengajukan ke dinas pertanian,” jelas Edy.

Kementan menginventarisir potensi lahan kering yang masih tersedia sumber daya air seluas 2,3 juta ha di 14 provinsi dan 152 kabupaten. Untuk lahan rawa seluas 675.0000 ha di enam provinsi seperti Lampung, Sumsel, Kalbar, Kalsel dan Sulsel.

“Kita juga menghimbau kepada petani yang ikut serta program asuransi pertanian, menggunakan varietas toleran kekeringan seperti Situbagendit, Situpatenggang, Limboto dan varietas lainnya yang adaptif dengan kekeringan,” harapnya.kbc11

Bagikan artikel ini: