LIPI dukung pengembangan pertanian organik di Banyuwangi

Rabu, 6 November 2019 | 13:27 WIB ET

BANYUWANGI – Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi melakukan kerjasama alih teknologi Pupuk Organik Hayati (POH) dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sebanyak 125 petani Banyuwangi dilatih untuk membuat dan memanfaatkan pupuk organik hayati. 

Perjanjian kerjasama antara pemkab dan pusat penelitian biologi LIPI tersebut diteken di Banyuwangi, Selasa (5/10/2019). Pihak LIPI diwakili oleh Kepala bidang mikrobiologi puslit biologi, Iwan Saskiawan. 

Iwan mengatakan kerja sama ini sebagai upaya LIPI mendukung pengembangan pertanian organik di daerah. POH ini, kata Iwan, merupakan hasil riset dari LIPI. 

“Hasil-hasil penelitian yang sudah dapat dilepas lalu kami sosialisasikan dan kami beri pelatihan dengan harapan dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat untuk memperkuat perekonomian daerah. Pelatihan ini juga sebagai upaya LIPI untuk menciptakan kemandirian daerah dalam peningkatan produksi pangan,” kata Iwan saat membuka pelatihan dan diseminasi POH di Banyuwangi.

 

POH LIPI dengan nama Beyonik Startmic merupakan hasil penelitian yang dipelopori oleh Dr. Sarjiya Antonius. POH ini telah melalui riset sberbasis ilmiah yang dilakukan selama 15 tahun.

POH ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan pupuk organik yang lain. Beyonik StarTmik mampu menyuburkan tanaman secara alami dengan meningkatkan kesehatan tanah.  

“Selain itu pemberian pupuk juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit. Metoda pembuatannya juga sederhana, menggunakan bahan-bahan alami yang ada di sekitar,” kata Sarjiya.

 

Dengan pemakaian pupuk organik hayati, imbuh Sarjiya, bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia sebanyak 50 persen. Diiringi dengan hasil produksi yang lebih tinggi hingga 25-30 persen. 

“Perlahan, setelah melalui proses lahan pertanian akan menjadi lahan organik yang bebas kimia sehingga biaya produksi sangat murah. Pada akhirnya kami ingin petani bisa mandiri dan terbebas dari ketergantungan pada obat-obatan kimia,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut diserahkan bantuan satu buah alat pembuatan POH dari LIPI kepada Dinas Pertanian Banyuwangi. 

“Dengan alat tersebut, sekali produksi bisa menghasilkan 200 liter POH yang bisa digunakan untuk 40 hektar sawah. Selain melatih cara membuat POH, hari ini petani juga akan dilatih menggunakan alat tersebut. Secara ebrkala nanti akan kami pantau produksinya, apakah sesuai dengan harapan kami,” kata Sarjiya. 

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan mengatakanpelatihan ini sangat bermanfaat bagi banywuangi yang tengah getol mengembangkan pertanian organik. Saat ini, lanjut Arief, luasan pertanian organik di Banyuwangi baru seluas 102 hektar. Targetnya pada 2020 luasan tersebut bisa meningkat menjadi 200 hektar.

“Semoga dengan penjelasan dari LIPI dan ilmu tentang pupuk organik yang diberikan bisa membuat petani mau mulai beralih mengembangkan pertanian organik daerah,” tandas Arief.

Selain melakukan alih teknologi pupuk organik hayati, kerjasam LIPI di Banyuwangi juga meliputi pengembangan bibit jati platinum. Sebanyak 3.000 bibit jati platinum diserahkan ke kantor cabang Dinas Kehutanan Pemprov Jatim di Banyuwangi.  

Bibit jati platinum merupakan hasil penelitian yang dipelopori oleh Dr. Witjaksono, salah satu peneliti di Pusat Penelitian Biologi. 

“Bibit jati platinum memiliki beberapa keunggulan, antara lain batang utama yang tumbuh lurus, percabangan tidak dominan, pertumbuhan tanaman cepat (8-10 tahun), memiliki perakaran yang kokoh dan menghasilkan kayu berkualitas. Ini sangat potensial untuk dikembangkan oleh daerah,” tandas Iwan. (*)

Bagikan artikel ini: