Bangun sentra perikanan budidaya berbasis komoditas unggulan jadi prioritas

Rabu, 6 November 2019 | 22:35 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Edhy Prabowo berharap sektor perikanan budidaya berkontribusi terbesar dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan nasional.Hal ini pula menjadi salah satu prioritas utama seperti dalam visi Presiden Joko Widodo.

"Tugas kedua Pak Jokowi adalah membangun sentra perikanan budidaya.Kita harus kerjakan bersama-sama sehingga akuakultur (budi daya perikanan) bisa menjadi terdepan, memberikan sumbangan terbesar di ekonomi ini (sektor kelautan dan perikanan)," kata Edhy Prabowo dalam pembukaan Aquatica Asia dan Indoaqua 2019 di Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Edhy mengatakan pihaknya terus mendorong sektor ini dengan menyalurkan bantuan pembangunan Empang, tambak dan perbaikan saluran irigasi. "Kemudian tambak garam kita mau geomembran itu sudah kita lakukan.Sampai tahun ini,yang kita bantu 7.500 hektare dari total 20.000 hektare," terangnya.

Edhy berharap momentum ini dapat menjadi ajang saling berbagi informasi dalam pengembangan budidaya perikanan agar ke depan lebih baik lagi.Selain itu, penyelenggaraan acara bertajuk "Aquaculture Forever" itu juga bisa menjadi ajang evaluasi dari target dan kelemahan yang terdapat di dalam bidang budi daya perikanan nasional.

Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto menyatakan pengembangan sentra perikanan budidaya ini berbasis wilayah yang memiliki komoditas unggulan. "Ada komoditas unggulan apakah nila, lele, udang dan rumput laut, kobia atau kakap.Nanti ada rumusnya," terangnya

Dalam sentra kawasan perikanan budidaya ini akan terintergrasi suplai benih serta sarana dan prasarana lainnya.Adapun wilayah yang menjadi sentra harus ditetapkan terlebih dahulu dalam tata ruang yang ditetapkan Perda.

KKP,kata Slamet tidak dapat bekerja sendiri.Karena itu diperlukan bekerjasama dengan berbagai instansi seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat , Kementan ,perbankan dan koperasi.

Slamet juga mengutarakan selama jangka waktu lima tahun ini, pengembangan perirkanan budidaya terbilang memuaskan.Seperti pendapatan pembudi daya perikanan yang saat ini rata-rata sekitar Rp 3,6 juta per bulan atau sudah berada di atas rata-rata upah minimum regional secara nasional.

"Nilai tukar usaha budi daya ikan sekarang adalah 112 (berdasarkan data BPS), ini artinya pembudi daya semakin sukses dan sejahtera karena keuntungan marjin yang didapat juga semakin besar," terangnya.

Ketua Panitia Pelaksana Indoaqua 2019 Ruri Sarasono mengatakan ajang tahun ini akan menjadi media edukasi serta produk perikanan dan hasil riset dalam bidang budi daya.Dengan luas 500 meter persegi akan diisi oleh berbagai stan baik dari kementerian, perusahaan swasta, hingga start up atau usaha rintisan bidang perikanan.

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan Produksi perikanan budi daya di Indonesia, pada tahun 2019 kuartal I tercatat naik sebanyak 3,03% atau sebesar 4,65 juta ton dibandingkan dengan tahun 2018 triwulan I sebesar 4,56 juta ton. Dan jika dibandingkan dengan waktu yang sama, produksi perikanan tangkap hanya mencapai 1,9 juta ton.

Sementara dari sisi nilai ekspor perikanan budidaya pada semester I 2019 tumbuh 6,27% menjadi US$ 145,56 juta. Namun dari sisi volume turun tipis yakni 0,09% menjadi 87.971 ton.

Komoditas ekspor perikanan budidaya adalah rumput laut dan ganggang senilai US$92 juta atau 63% dari total. Sementara ekspor ikan hidup merupakan komoditas yang membukukan pertumbuhan terbesar 16,62% yakni US$23,4 juta.Untuk mutiara tumbuh 10% menjadi 20,62 juta.kbc11

Bagikan artikel ini: