Industri akuakultur berkelanjutan butuh sinergitas terintegrasi

Jum'at, 8 November 2019 | 06:47 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Potensi ekonomi industri akuakultur atau perikanan budidaya nasional mencapai US$210 miliar per tahun.Hal itu dapat direalisasikan secara optimal apabila semua pemangku kepentingan bersinergi satu sama lain.

"Akuakultur diyakini menjadi satu kegiatan yang bisa meningkatkan pendapatan masyarakat dan menyerap banyak tenaga kerja.Bahkan memberikan multiplier effect dirasakan banyak pihak," ujar Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto dalam peluncuran dan bedah buku " Total Akuakultur" di Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Hanya saja untuk mewujudkannya , hal itu tidak dapat dilakukan sendiri.Dalam teknik  produksi misalnya, tidak bisa dilihat dari mutu benih saja.Namun sejauhmana kualitas dan menghasilkan pakan yang efisien.

Slamet tidak menampik dalam praktiknya kegagalan budidaya perikanan rentan terjadi.Namun bukan berarti upaya pengembangan akuakultur harus terhenti.Tak ayal, produksi akuakultur saat ini sudah mencapai 170 juta ton per tahun.

Berdasarkan pengalamannya 25 tahun di balai penelitian , teknologi menjadi salah satu kata kunci.Riset yang berkesinambungan dilakukan hingga target hasilnya dapat diterapkan di lokasi produksi yang berbeda.

Slamet meyakini industri akuakultur  nasional yang mandiri dan berdaya saing membutuhkan peran semua pemangku kepentingan.Termasuk didalamnya dukungan Pemerintah Daerah.

Slamet mencontohkan kerja sama pengembangan akuakultur antara Bupati Gorontalo, Bupati Buol, Bupati Bolaang Mongondow Utara, Bupati Bone Bolango yang tergabung dalam Badan Kerjasama Utara-Utara (BKSU). Ia berharap, semakin banyak daerah lain yang akan melakukan kerjasama serupa.

Pelibatan semua pemangku kepentingan inilah yang menjadi strategi untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya.Melalui total akuakultur, juga dapat memitigasi permasalahan yang beresiko menurunkan produktivitas maupun kegagalan usaha budidaya perikanan secara cepat dan tepat.

“Pak Slamet adalah orang yang tak asing dan Dirjen yang tidak pernah diganti dan tak tergantikan pada periode Menteri Susi," timpal Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Dia mengatakan buku ini berisi terobosan luar biasa dalam akuakultur. “Buku ini sangat penting karena salah satu tugas utama Presiden Joko Widodo kepada saya yakni membangun perikanan budidaya lebih baik lagi,” tandasnya.

Meskipun perikanan budidaya masih harus diperbaiki. Contohnya udang ada gap yang luar biasa antara petambak udang rakyat dengan pengusaha udang intensif. “Produksinya bisa mencapai 50 ton per hektar per tahun. Sedangkan petambak rakyat hanya 1 ton, makanya harus ditingkatkan menjadi 5 ton per ha per tahun,” ujar Edhy.

Edhy berharap konsep total akuakultur menjadi terobosan dalam menjawab masalah di perikanan budidaya.“Anak-anak muda atau milenial diharapkan berbondong-bondong terjun ke sektor budidaya perikanan,” tandasnya.

Edhy pun menegaskan komitmennya  menguatkan kembali kontribusi sub sektort  perikanan budidaya yang dirasakan di era sebelumnya kurang memperoleh perhatian.Tidak kalah penting adalah aspek kelestarian lingkungan sehingga mampu menjamin keberlanjutan usaha perikanan budidaya itu sendiri.

Dalam hal ini Indonesia harus banyak belajar dari negara lain apabila industri akuakultur nasional dapat berdaya saing.Untuk itu, pihaknya berjanji akan mengawal melalui regulasi ,penguatan anggaran dan akses pasar yang berpihak kepada kemajuan industri akuakultur nasional.kbc11

Bagikan artikel ini: