Irfan Wahid bicara empat problem utama pengembangan industri kreatif, apa saja?

Jum'at, 8 November 2019 | 13:22 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ketua Tim Quick Win 5 Destinasi Super Prioritas yang juga mantan Ketua Industri Kreatif Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Irfan Wahid mengungkapkan sedikitnya empat permasalahan utama industri kreatif di Indonesia.

”Yaitu masalah SDM yang berkualitas, pengetahuan kewirausahaan, literasi digital, dan akses permodalan,” jelas Irfan kepada media, Jumat (8/11/2019).

Irfan mengatakan, empat permasalahan itu juga dia bahas saat menjadi pembicara di acara Rakernas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang industri kreatif di Jakarta, kemarin. Rakernas mengangkat tema “Mendorong SDM Unggul dan Penerapan Teknologi untuk Menjadikan Ekonomi Kreatif sebagai Tulang Punggung Ekonomi Indonesia”, dan dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama.

Irfan mencontohkan, banyak pelaku kreatif yang berpotensi tinggi dengan kualitas SDM mumpuni, namun belum memiliki pengetahuan kewirausahaan komprehensif, mulai legalitas usaha, manajemen keuangan, hingga penguasaan tren pasar. Karena tak punya pengetahuan kewirausahaan itu pula, banyak pelaku kreatif belum bisa mengakses permodalan. Sehingga potensi besar itu tidak terwujudkan dalam perputaran ekonomi yang berdampak signifikan ke masyarakat.

”Itulah mengapa tata kelola pengembangan industri kreatif harus dilakukan secara terintegrasi. Pendekatannya perlu lebih tajam menukik ke dasar persoalan, bukan semata-mata urusan gimmick dan rutinitas program untuk mencairkan anggaran,” ujar Irfan yang telah puluhan tahun berkiprah di industri kreatif.

Selain itu, Irfan memaparkan pentingnya peranan sekolah menengah kejuruan (SMK) dalam penciptaan tenaga kerja berkualitas di industri kreatif.

”Kita mengapresiasi keberhasilan pemerintah menurunkan angka pengangguran SMK. Per Agustus 2019 ini kan tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK 10,42 persen, terus menurun dibanding lima tahun yang masih di atas 12 persen. Ke depannya kita harus memperbanyak SMK-SMK kreatif, dan tentu melibatkan swasta,” ujarnya. 

Pelibatan SMK dalam pengembangan industri kreatif juga sekaligus menjadi jangkar penurunan pengangguran, mengingat TPT lulusan SMK masih menjadi yang terbesar dibanding kelompok pendidikan lainnya yang persentasenya sudah di bawah 8 persen. 

”Presiden Jokowi sudah menyampaikan pentingnya mendidik anak muda sejak dini menjadi generasi kreatif, termasuk soal kewirausahaan. Kolaborasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memastikan keberhasilan pelibatan SMK dalam mengiringi pertumbuhan industri kreatif,” ujarnya.

Saat ini, industri kreatif terus menjadi pendorong ekonomi nasional. Pada 2018, industri kreatif berkontribusi Rp 1.105 triliun ke produk domestik bruto (PDB). Serapan tenaga kerjanya mencapai 17,43 juta orang per 2017.

”Tantangan Industri Kreatif kedepan juga makin berat karena 2 hal. Pertama, dengan digabungnya Bekraf dengan Kemenpar, sehingga ruang gerak makin sempit dan tidak luwes. Plus butuh waktu untuk proses penggabungan nomenklatur. Kedua, Potensi resesi global yang di depan mata.” ujarnya.

”Pada akhirnya, kita harus mengingatkan dan mengawal Kemenparekraf untuk tidak melupakan masalah-masalah utama industri kreatif yang perlu dicari solusinya,” tutup Irfan. kbc3

Bagikan artikel ini: