Awal November, realisasi Asuransi Tani Usaha Padi capai 880.728 Ha

Senin, 11 November 2019 | 07:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat realisasi program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) mencapai 880.728 hektare (ha) dari target 1 juta ha. Diperkirakan klaim dari sawah yang terkena puso tahun 2019 ini jauh lebih besar dibanding tahun lalu akibat kemarau panjang. 

“Tagihan yang sudah dibayar baru 625.943 ha atau 80% dari areal lahan pertanian yang terdaftar. Teman-teman sedang mempercepat ke sejumlah daerah seperti Sumatera Selatan, Kalimantan, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan serta Nangroe Aceh Darrusalam,” ujar Direktur Pembiayaan Ditjen Sarana dan Prasarana (PSP) Indah Megasari kepada kabarbisnis.com di Jakarta, Minggu (10/11/2019).

Trend petani yang mengikuti program AUTP dalam empat tahun terakhir. Data AUTP menyebutkan pada 2015 yang terkover baru sekitar 233.500 ha dengan luas lahan yang klaim sebesar 3.492 ha. Angka yang terkover bertambah di 2016, yaitu seluas 307.217 ha dengan klaim 11.107 ha.

Pada 2017 bertambah lagi menjadi 997.961 ha dengan klaim kerugian tercatat 25.028 ha. Adapun pada 2018, realisasinya sekitar 806.199,64 ha dari target 1 juta hektare (80,62%) dengan klaim kerugian mencapai 12.194 ha (1,51%).

Meski diakui program ini sempat tersendat karena penerapan digitalisasi program bernama Aplikasi Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP) yang diluncurkan mulai tahun 2019 . Indah meyakini realisasi AUTP di tahun 2019 ini dapat tercapai sebesar 90% atau 900.000 ha .

Upaya yang dilakukan Ditjen PSP guna mengajak  kelompok petani agar lahan pertaniannya dapat diproteksi apabila terjadi gagal panen adalah dengan memasukan AUTP dalam satu paket bantuan program SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani) seluas 400.000 ha. Setiap 1 ha, Kementan memberikan bantuan konstruksi sebesar Rp 4,3 juta .

“Pembayaran premi sebesar Rp 36.000 per ha sudah kita dihitung dalam bantuan.Sementara pemerintah yang membayar sisanya yakni sebesar Rp 144.000. Kalau terjadi gagal panen sebesar 75%, petani mendapat pergantian asuransi seluas Rp 6 juta per ha,” ujar Indah.

Merujuk data Ditjen Perlindungan Lahan Tanaman Pangan Kementan yang menyebutkan per 18 Oktober lalu, luas lahan yang mengalami puso akibat dampak kekeringan mencapai 86.886 ha. Sementara luas lahan yang terpapar kekeringan akibat kemarau panjang tahun 2019 mencapai 319.763. Apabila ditambah sawah puso akibat diterjang banjir bertambah menjadi 125.662 ha.

Indah mengakui sawah yang mengalami areal lahan pertanian puso tahun 2019 ini jauh lebih luas ketimbang tahun 2018. Namun, besarnya luas areal pertanian yang mengalami puso tidak selalu simetris dengan besarnya klaim . Pasalnya tidak melulu petani yang lahannya terkena puso mengikuti program AUTP atau masih dalam proses pengajuan klaim.

Hasil dari kunjungan ke lapangan di beberapa daerah banyak petani yang menyesal tidak mengikuti AUTP. “Ada juga yang tahun 2018 mereka ikut (AUTP red). Tapi tahun ini tidak ikut karena mengira dampak dari musim kemarau tidak besar,” jelas Indah .

Pada kesempatan itu, Indah menegaskan program AUTP bukan saja menaungi lahan irigasi teknis dan kelompok tani yang memperoleh bansos Kementan. Program AUTP juga melindungi petani yang menggunakan lahan tadah hujan. “Lahan irigasi teknis dan lahan kering juga kita ikutsertakan. Tidak dibedakan,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: