Action University wadahi PKL kuliner naik kelas jualan di mall

Senin, 11 November 2019 | 09:33 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Jumlah usaha mikro kecil menengah (UMKM) jenis makanan dan minuman (kuliner) di Tanah Air cukup besar. Mereka sebagian besar adalah para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di pinggir-pinggir jalan.

Didasari oleh niat baik untuk mengangkat nilai jual dan kesejahteraan para UMKM kuliner tersebut, Action University, sebuah komunitas entrepreneur di Surabaya memberi wadah bagi para PKL untuk naik kelas dengan berjualan di pusat perbelanjaan alias mall.

Founder Action University, Syaiful M Soemarsono mengatakan, melalui komunitas yang tergabung di Action University, pihaknya ingin masyarakat bisa meningkatkan kesejahteraan dan tumbuh berkembang bersama.

Kali ini, pihaknya membuat wadah baru bernama Action Cullinary yang kini berhasil menciptakan “Kampung Kuliner” di dalam ITC Mall di kawasan Jl. Gembong Surabaya.

"Dengan wadah ini, kami ingin menaikkan kelas para PKL yang selama ini berjualan di pinggir jalan atau bahkan belum memiliki usaha sama sekali untuk membuka usaha kuliner di lokasi yang representatif yakni di mall," katanya di Surabaya, Minggu (10/11/2019).

Pihaknya memilih konsep keroyokan untuk permodalannya. Cara ini merupakan solusi efektif untuk menampik bahwa membangun sebuah usaha itu butuh modal besar, namun hal ini bisa dilakukan, dengan memanfaatkan jaringan yang selama ini dibangun.

Dipaparkannya, hal pertama yang diterapkannya kepada para anggota komunitas atau masyarakat yang ingin menjadi pengusaha, adalah dengan mengubah pola pikir mereka.

"Selama ini yang ada di benak orang adalah ke mall untuk belanja atau buang duit. Nah, kita mengubah mindset mereka bahwa ke mall itu cari duit dan bisa menghasilkan duit. bagaimana caranya, kita kasih tekniknya di sini. Dan di Action Cullinary ini adalah pintu masuk mereka untuk bisa sukses," jelas Syaiful.

Ditambahkannya, potensi bisnis kuliner di Surabaya ini masih besar. Sebab saat Indonesia mengalami resesi ekonomi, bisnis kuliner masih tegar.

“Kita berharap seluruh mall ada “Kampung Kuliner” seperti ini. Sebab di ITC ini kami memang menciptakan pangsa pasar sendiri. Sebab potensinya masih sekitar 50 persen, harusnya mall itu pas untuk kuliner, karena percepatannya jelas, berbeda dengan bisnis busana. Orang berkunjung ke mall pasti butuh kuliner,” ujar Syaiful.

Founder Action Cullinary sekaligus Ketua Paguyuban Action Cullinary, Lutfiah Erdiana menambahkan, dipilihnya ITC kali ini sebab pihaknya telah bernegosiasi untuk memboyong komunitas UMKM dan pedagang kaki lima untuk meramaikan mall tersebut.

“Dari perbincangan dengan manajemen ITC kami diijinkan meramaikan mall ini tanpa kompensasi membayar uang sewa. Kami hanya dibebani membayar service charge dan biaya listrik saja. utk memberi kesempatan mereka berdagang di mall. Itu pun biayanya hanya sekitar Rp 500 hingga Rp 700 ribu perbulannya, dan itu ditanggung ramai-ramai,” tandas Upi, sapaan akrab Lutfiah.

Menurut dia, di Kampung Kuliner tersebut sudah menghimoun 30 stand yang terdiri dari 60 orang pedagang.

“Jika mereka punya satu stan, namun brand nya lebih dari satu, dan bayar listrik, service charge, bayar pegawai itu keroyokan patungannya. Karena kita mengemban misi ekonomi kerakyatan,” tegas Upi.

Ia memproyeksikan, tiap stand bisa beromset Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta per hari, dan hasil itu ermasukkd dengan mengandalkan penjualan secara online.

“Yang kita terapkan di sini adalah bisnis modelnya, jika bisa kita juga jual brand nya agar menjadi UMKM yang inovatif,” tutur Upi.

Di kelas Action Cullinary ini, lanjutnya, pihaknya memberikan pelatihan yang meliputi hal branding, packaging, dan menaikkan kualitas produknya melaluk kombinasi dan inovasi produk.

“Jika konsep tersebut diterapkan secara optimal, maka kami optimis akhir tahun ini omset kita bisa naik hingga 100 persen. Apalagi memasuki masa liburan panjang,” pungkas Upi.

Syaiful menambahkan, dengan langkah tersebut pihaknya berharap masyarakat atau pengusaha yang bergabung di Action University bisa memiliki kecerdasan finansial.

"Dan ini adalah bagian dari visi dan misi kami mewujudkan satu juta pengusaha secara nasional sesuai dengan upaya pemerintah," pungkasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: