KAI berniat rilis obligasi Rp2 triliun, untuk apa?

Selasa, 12 November 2019 | 09:03 WIB ET

JAKARTA, kabarbiosnis.com: PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI terus berupaya mencari pendanaan alternatif yang paling efisien. Kali ini, KAI memilih obligasi sebagai sarana untuk mendapatkan dana segar senilai Rp 2 triliun.

Direktur Keuangan PT KAI Didiek Hartantyo menyebutkan, selama ini KAI mencari pendanaan dari perbankan. "Kami lihat perlu mengembangkan alternatif lain pembiayaan sehingga pilih obligasi," ujarnya di Jakarta, Senin (11/11/2019).

Untuk obligasi kali ini, KAI berencana menerbitkan sebanyak Rp 2 triliun. Dari sana Rp 1,2 triliun akan digunakan untuk refinancing utang dari perbankan karena sebelumnya pihaknya telah membeli sebanyak 438 kereta dengan harga Rp 500 miliar.

Selain itu, alternatif pendanaan baru ini juga dipilih lantaran kewajiban dari perbankan merupakan jangka pendek sehingga dengan obligasi pihaknya memiliki jangka waktu yang lebih panjang. Dengan demikian, pihaknya mampu untuk mencatatkan kinerja yang lebih apik lagi.

Sedangkan sisanya, Rp 800 miliar untuk membeli 36 lokomotif baru di 2020. "Harapannya sebelum tutup tahun sudah bisa meneken kontrak untuk menambah kapasitas pengangkutan barang," tuturnya.

Selain itu, dana tersebut juga akan digunakan untuk repowering sarana sudah berumur di atas 30 tahun. Dengan begitu, secara operasi bisa dianggap lokomotif baru. Adapun biaya repowering ini mencapai 60% dari harga lokomotif baru.

Dari sana, secara operasional KAI diharapkan mampu mencapai target laba yang telah dibidik yakni Rp 1,8 triliun. "Kami masih optimistis, karena sampai dengan semester I kami telah mencapai Rp 1,2 triliun," ungkapnya. kbc10

Bagikan artikel ini: