Transaksi e-commerce Indonesia ditaksir tembus Rp913 triliun pada 2022

Sabtu, 16 November 2019 | 10:54 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perusahaan teknologi e-commerce lokal SIRCLO merilis laporan mengenai perbandingan antar pasar di Asia Tenggara, jumlah investasi pemerintah untuk infrastruktur e-commerce, serta potensi pasar untuk investor global dan lokal.

Chief Executive Officer dan Founder SIRCLO, Brian Marshal mengatakan, laporan ini bertujuan untuk memberikan amunisi informasi kepada semua pemegang kepentingan untuk bersama-sama berkolaborasi mendorong inovasi dan pertumbuhan e-commerce tanah air.

"Sekarang, pertumbuhan industri e-commerce Indonesia sedang dalam masa pesatnya. Di Indonesia, kami melihat masih banyak pemain lokal yang memiliki potensi untuk bertumbuh pesat, yang apabila kita dukung dengan teknologi dan kolaborasi informasi seperti ini mampu memaksimalkan potensi dan ekspansi bisnis mereka," jelas Brian di Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Laporan tersebut mencatat bahwa adanya kenaikan 200 persen investasi digital di Indonesia dari tahun ke tahun.

"Kenaikan jumlah dan nilai investasi ini paling jelas terlihat pada sektor e-commerce, yang menyumbang 58 persen dari total nilai investasi keseluruhan di tahun 2018 atau sekitar US$3 miliar (Rp42 triliun), diikuti sektor transportasi sebesar 38 persen." ungkap Brian.

Hal ini terjadi berkat unicorn e-commerce tanah air seperti Tokopedia dan Bukalapak yang berhasil menarik perhatian berbagai investor luar dan dalam negeri. Misalnya, Tokopedia yang mengantongi investasi senilai US$1,1 miliar (Rp15,4 triliun) dari Alibaba di akhir tahun 2018 dan Bukalapak yang mendapat suntikan dana dari Mirae dan Naver CoRpsenilai US$50 juta (Rp700 miliar) di kuartal pertama tahun 2019,” lanjut Brian.

Brian menilai bahwa wajar para investor optimis dan berani berinvestasi di pasar e-commerce Indonesia. Pasalnya, menurut data yang terkumpul dalam laporan SIRCLO, penjualan ritel e-commerce Indonesia diperkirakan mencapai USD 15 miliar (Rp210,8 triliun) pada 2018 dan akan meningkat lebih dari empat kali lipat pada tahun 2022, menyentuh angka USD 65 miliar (Rp913,6 triliun).

"Hal ini membuat ritel online yang tadinya hanya menyumbang 8 persen penjualan total pada tahun 2018, akan menembus 24 persen di tahun 2022," kata Brian.

Penemuan-penemuan inilah yang membuat SIRCLO optimis terhadap potensi perkembangan industri e-commerce di tanah air.

"Melihat data-data internal maupun eksternal, pertumbuhan e-commerce di Indonesia pada tahun 2019 masih sangat positif. Bahkan beberapa tahun mendatang, dapat berkembang menjadi 8 hingga 10 kali lipat," ujar Brian.

"Kami berharap adanya laporan e-commerce ini dapat memicu kerja sama yang lebih erat lagi antara penjual ritel, para pemain utama dalam ekosistem e-commerce, dan e-commerce enabler seperti kami untuk mengakselerasikan pertumbuhan," imbuhnya.

Saat ini, SIRCLO memiliki dua produk untuk membantu brand dan pemilik usaha meningkatkan penjualan di berbagai marketplace seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, Bukalapak, dan Blibli.com. SIRCLO Store dibuat untuk membantu brand lokal membuat toko online dengan mudah. Beberapa brand-brand lokal yang menggunakannya adalah ATS The Label, Benscrub, Namaste Organic, dan This Is April.

Di lain sisi, SIRCLO Commerce memiliki misi membantu brandlokal dan multinasional, menangani proses penjualan end-to-end di marketplace.

"Connexi kami merupakan teknologi di balik operasional SIRCLO Commerce. Melalui tools ini, kami telah membantu lebih dari 40 principals ternama yang memayungi 200 brand besar. Beberapa di antaranya adalah Reckitt Benckiser, KAO, Arnotts, Arla, L'OrÃal (Group), Eiger, Levi's dan yang terbaru saat ini, Unilever," ungkap Brian.

Kini tools Connexi tidak lagi hanya digunakan secara internal SIRCLO, namun juga telah tersedia bagi brand lokal yang ingin mengembangkan bisnis di kanal marketplace. kbc10

Bagikan artikel ini: