Solusi Tim Ahli KADIN Jatim tentang kelangkaan solar bersubsidi

Minggu, 17 November 2019 | 13:50 WIB ET
Dr Ir Jamhadi, MBA.
Dr Ir Jamhadi, MBA.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi di sebagian wilayah Jawa Timur mendapat perhatian dari Tim Ahli Kamar Dagang Dan Industri (KADIN) Jawa Timur, Dr Ir Jamhadi, MBA, di bawah kepemimpinan Ketua Umum Kadin Jatim, La Nyalla Mahmud Mattaliti.

Jamhadi yang juga Direktur KADIN Institute menilai, kelangkaan solar bersubsidi disebabkan diantaranya permintaan terhadap solar meningkat karena sektor wisata meningkat ditandai dengan banyaknya bus pariwisata berbahan bakar solar yang beroperasional, ditambah kendaraan pribadi yang masih mengkonsumsi solar.

"Termasuk pula dorongan meningkatkan porsi jumlah industri di Indonesia dari saat ini sekitar 19% dari PDB, terus didorong meningkat hingga 25% pada 5 tahun kedepan. Itu bisa dilihat dari pasokan Pertamina yang meningkat sekitar 20% dari kuota untuk Jawa Timur," jelas Jamhadi, CEO PT Tata Bumi Raya sekaligus alumni Teknik Sipil ITATS.

Dari catatannya, total alokasi solar pada tahun 2019 sebanyak 2.092.000 kilo liter (KL). Alokasi sampai dengan Oktober 2019 sebanyak 1.742.400 kilo liter dan terealisasi sampai dengan Oktober 2019 sebanyak 1.917.800 kilo liter. Penyaluran 3 bulan terakhir sudah mencapai 215.000 kilo liter Solar per bulan.

Namun demikian, Pertamina berharap penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran. Sebab yang terjadi di lapangan hingga kini BBM bersubsidi masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu. Padahal sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014, BBM tertentu termasuk Solar bersubsidi hanya diperuntukkan bagi industri rumah tangga, usaha mikro, usaha pertanian, usaha perikanan, transportasi dan pelayanan umum, termasuk juga kendaraan pribadi dengan kapasitas mesin atau CC yang kecil.

Pertamina memastikan tetap melayani permintaan konsumen untuk menyalurkan BBM Bersubsidi jenis Solar. Padahal di semester I 2019, penyaluran Solar di Jatim rata-rata masih 175.000 kilo liter per bulan. Seperti dari Terminal BBM Tuban, rencana penyaluran pada Sabtu (16/11/2019) sebanyak 1.384 kilo liter. Penyaluran ditambah 23,5% dari normal 1.120 kilo liter per hari.

Karena itulah, Jamhadi yang juga Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Alumni (IKBA) Untag 45 Surabaya menyampaikan solusi, yakni Pertamina harus menyesuaikan neraca demand and supply BBM jenis solar bersubsidi sesuai rencana pengembangan industri yang baru, mass transportation harus diwujudkan untuk mengurangi idle.

"Solusi lainnya ialah energi terbarukan tetap harus di create termasuk PLTSA," demikian solusi Jamhadi. kbc10

Bagikan artikel ini: