Teknologi AI dan big data lokal mulai dilirik industri dalam negeri

Selasa, 19 November 2019 | 20:32 WIB ET
Dirut PT Dua Empat Tujuh (S247) Beno Kunto Pradekso (tiga kiri) bersama Direktur PT Envy Technologies Indonesia Tbk Mohammad Nadzaruddin bin Abd. Hamid (dua kanan) didampingi Direktur ENVY Henk Mahendra (kanan) pada penandatanganan MoU antara ENVY dan S247 di sela ”Konferensi Big Data Indonesia 2019” di Surabaya.
Dirut PT Dua Empat Tujuh (S247) Beno Kunto Pradekso (tiga kiri) bersama Direktur PT Envy Technologies Indonesia Tbk Mohammad Nadzaruddin bin Abd. Hamid (dua kanan) didampingi Direktur ENVY Henk Mahendra (kanan) pada penandatanganan MoU antara ENVY dan S247 di sela ”Konferensi Big Data Indonesia 2019” di Surabaya.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Dalam lima tahun terakhir penetrasi teknologi Artificial Intrlligence (AI) dan big data buatan lokal mulai mendapat tempat di industri dalam negeri.

Hal ini pula yang mendorong sejumlah perusahaan pengembang (developer) big data nasional untuk terus melakukan sosialisasi mengingat kualitas dan kemampuan AI maupun big data nasional sudah sejajar dengan produk luar negeri.

Hal ini dikemukakan Direktur PT Envy Technologies Indonesia Tbk, Henk Mahendra MSC di sela ”Konferensi Big Data Indonesia 2019” di Surabaya, Selasa (19/11/2019).

Konferensi Big Data Indonesia merupakan kegiatan konferensi big data tahunan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Komunitas Big Data Indonesia, idBigData, yang berkerjasama dengan berbagai vendor teknologi, perusahaan pengguna big data, pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan komunitas.

Dikatakan Mahendra, penerapan AI dan big data lokal oleh industri maupun lembaga nasional yang mengandalkan produk digital mengalami perkembangan signifikan. 

"Jika pada lima tahun lalu TKDN big data masih kecil, atau bisa dikatakan ketergantungan pada big data buatan luar negeri bisa menguasai sekitar 95 persen, saat ini bisa ditekan tinggal 25 persen. Artinya TKDN AI dan big data kita sudah sekitar 75 persen," ungkap Mahendra.

Menurutnya, selain harganya yang jauh lebih terkangkau dibanding dengan menggunakan big data luar negeri, semangat untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional termasuk dari sisi cyber security juga lebih terjamin jika menggunakan big data lokal.

Apalagi, jika pengguna akan melakukan pengembangan, ketika memakai AI dan big data asing, tentunya akan terikat dengan kewajiban untuk menggunakan konsultan atau lisensi asing, yang notabene harganya tinggi.

"Jangan khawatir, teknologi AI kita sudah bisa disejajarkan dengan produk luar negeri kok, dan yang paling penting, efisiensi biaya perusahaan jauh lebih bisa ditekan," ujar Mahendra.

Oleh karena itu, pihaknya terus gencar melakukan sosialisasi dengan menggandeng sejumlah perguruan tinggi dan penggiat big data di Tanah Air, sehingga akan menjadi trigger dan pendorong bagi industri dalam negeri dan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Salah satu upayanya adalah dengan dilakukannya kerja sama antara  PT Envy Technologies Indonesia Tbk dengan SOLUSI247 atau disingkat S247 yang juga dilakukan di sela kegiatan Konferensi Big Data Indonesia tersebut.

Menurut Mahendra, kerja sama tersebut bertujuan untuk mendesain, mengembangkan dan mengimpiementasikan teknologi Big Data ber-Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence), IoT (Internet of Thing), teknologi Biockchain, Big Data Cyber Security (Keamanan Siber untuk Big Data), serta untuk mempromosikan hasil produk-produk kerjasama tersebut di negara=negara anggota ASEAN bersama Indonesian Big Data for Sustainable Well Being Initiative. 

Envy Data Driven Solution sendiri menyediakan infrastruktur data, persiapan dan integrasi data, platform data, visualisasi data, dan analisis data dengan teknologi keamanan data dan kecerdasan buatan terkini untuk menemukan wawasan yang dapat memiliki dampak bisnis yang nyata dan positif seperti; meningkatkan operasional bisnis, peningkatan kinerja, dan pengambilan keputusan yang lebih baik.

Sementara S247 merupakan perusahaan penyedia lT Solution dari Indonesia yang berbasis di Jakarta dan berfokus pada pemrosesan data skala besar, sistem manajemen basis data relasional (RDBMS), dan pemrosesan file data paralel dan terdistribusi secara masif.

Mahendra menjelaskan, kombinasi antara Big Data dan keahlian untuk menganalisis data akan membantu perusahaan dalam menemukan kunci untuk meningkatkan akurasi dalam analisis masalah bisnis dan efektivitas dalam berbagai keputusan strategi bisnis.

Dari sisi big data, Indonesia dipandang sebagai salah satu pasar di Asia yang potensial tumbuh signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Sejumlah sektor industri diyakini sangat akrab dengan teknologi Ai dan big data, seperti telekomunikasi, perbankan dan finansial, ritel, kesehatan, dan sebagainya. kbc7

Bagikan artikel ini: