Mainan impor tanpa SNI susah payah masuk pasar RI

Rabu, 20 November 2019 | 22:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia merupakan pasar mainan anak yang menggiurkan. Apalagi terdapat jumlah kelahiran bayi di Indonesia yang setiap tahun terdapat lebih 4 juta kelahiran.

Gurihnya peluang pasar mainan di dalam negeri membuat importir dan distributor berkeinginan memasukkan mainan tanpa terstandarisasi, terutama terkait kesehatan ke pasar domestik. Namun, ketatnya pengawasan menyebabkan produk mainan sulit kian sulit direalisasikan.

Ketua Asosiasi Importir Mainan Indonesia (AIMI) Sandi Vidhianto mengatakan, tren mainan impor semakin menurun. Setidaknya, hal itu ditandai  laporan Bea dan Cukai melalui dokumen pajak yang dibayar importir.

Jika di tahun 2014, arus mainan impor yang masuk sebesar 4.000 kontainer. Namun hingga 2017 tinggal 2.000 kontainer saja. Mayoritas mainan impor didatangkan dari China. Menurut Sandi kuncinya penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib atas  produk mainan .Hal ini menyebabkan arus dokumentasi importasi  kepabeanan semakin tertib.

“Sekarang Bea Cukai tidak lagi membolehkan memasukan mainan impor secara borongan. Kita bisa pastikan proses pengawasan yang dijalankan adalah benar,” ujar Sandi ketika memberikan keterangan pers berkaitan Maternity, Baby and Kids Expo (IMBEX) 2019 di Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Ketatnya pengawasan ini pun dijalankan Kementerian Perdagangan. Arus kedatangan mainan impor yang masuk dari Malaysia ke pelabuhan pelabuhan kecil seperti di Riau dan Batam. Melalui penindakan barang beredar produk impor tersebut, Kemendag berhasil menyita dengan nilai hampir Rp 5 miliar.

“Bahkan baru-baru ini, di Semarang, ketika dalam sidak mainan impor diketahui tidak mencantum label Standar Nasional Indonesia (SNI).Tidak ada ampun langsung dibakar,”ujar Sandi seraya mengakui juga melakukan penindakan bagi anggotanya mendistribusikan mainan impor yang dinilai membahaykan kesehatan manusia.

Sandi mengakui sekitar 60-70% produk mainan impor mengisi pasar domestik. Pihaknya tetap berkepentingan bertanggungjawab terhadap kelangsungan insan UKM yang memproduksi mainan. Upaya ditempuh melalui edukasi , pembinaan dan pendampingan agar produk mainan mereka juga dapat memperoleh sertifikat SNI. “Bahkan kita bantu rate khusus dibanding importir,” kata dia.

Menurutnya mainan jenis wooden toys dan berbahan plastik sudah dapat bersaing dengan produk mainan impor.Peredaran di pasar seperti di ritel modern pun sudah cukup banyak ditemui.

Ditambahkan pihaknya turut aktif membantu pemerintah dan orang tua untuk terus memperhatikan mutu mainan yang masuk ke pasar domestik. Tentunya mainan tersebut harus memenuhi standar mainan yang berlaku di Indonesia.

Berkaitan IMBEX 2019, General Manager Reed Panorama Exhibitions, Steven Chwee mengatakan, acara ini akan berlangsung dari 29 November-1 Desember 2019 .Bertempat di di Jakarta Convention Center (JCC), pameran ini diharapkan dapat menyediakan kebutuhan ibu hamil, bayi dan anak-anak terlengkap di Indonesia dalam penghujung tahun 2019.

Pameran festival akhir tahun ini akan menghadirkan lebih dari 500 merek dari kurang lebih 300 perusahaan diatas area sebesar 14,000 sqm dan diikuti oleh empat negara: Indonesia, Jepang, Korea dan China.“IMBEX 2019 ditargetkan bisa menarik antusiasme pengunjung lebih dari 40 ribu orang atau meningkat 10 persen dari tahun lalu,” terangnya.

IMBEX 2019 juga menghadirkan berbagai program edukasi yang dikemas dalam bentuk talkshow, seminar dan program fun stage. Anak-anak juga dapat sekaligus bermain dan mengembangkan potensi melalui serangkaian acara yang diadakan di setiap program fun stage.kbc11

Bagikan artikel ini: