Daya beli masyarakat turun, pengusaha minta pemerintah lakukan ini

Kamis, 21 November 2019 | 08:11 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah diminta untuk bisa mengantisipasi terhadap kecenderungan menurunnya daya beli masyarakat agar tidak berkelanjutan. Pasalya, pelemahan daya beli akan berimbas kepada perlambatan sejumlah sektor perekonomian.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menyebut, melambatnya konsumsi sudah tercermin dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS). Pada kuartal III-2019 konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 5,01%, turun dari kuartal sebelumnya 5,17%.

"Memang pertumbuhan ekonomi kita melambat, ya pasti karena konsumsinya turun, karena sumbangsihnya 56% terhadap pertumbuhan. Konsumsi turun 0,16% itu signifikan loh," ujarnya dalam acara Kongkow Bisnis Pas FM di Hotel Milenium, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Meski begitu Roy menegaskan penurunan konsumsi bukan berarti daya beli masyarakat turun. Sebab penurunan daya beli lebih dikarenakan kenaikan pendapatan masyarakat tidak setinggi kenaikan harga barang.

Konsumsi sendiri menurun, menurutnya disebabkan beberapa hal, seperti inflasi. Hal itu akan membuat masyarakat mengerem pembelian.

"Karena situasi kondisi harga cenderung naik tapi nilai tukar kita turun. Kemudian yang dijaga harga dalam negeri seperti BBM, listrik dan gas. Kita apresiasi pemerintah sudah berusaha menjaga," ujarnya.

Namun dia berharap pemerintah bisa mendorong produktivitas masyarakat. Jika produktivitas menurun maka akan menekan konsumsi rumah tangga.

"Kita melihat tadi sektor mobil turun untuk komersial ini kan padat karyanya. Terlihat dari pembelian truk untuk tata niaga yang turun. Investasi yang masuk dalam bentuk portofolio," tambahnya.

Intinya, kata Roy, harus dilakukan upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Salah satunya dengan mendorong produktivitas. "Setiap orang yang gajinya bertambah yang dapat bonus pasti konsumsi," ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: