Bahan baku melimpah, ratusan investor China berniat bangun kawasan industri furnitur di RI

Jum'at, 22 November 2019 | 09:00 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sekitar 200 pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Wood and Wood Product Shandong, China membidik investasi industri kayu dan furnitur di Indonesia.

Mereka berminat untuk membangun kawasan industri furnitur di Jawa Tengah.

Hal ini terungkap  delegasi dari Shandong tersebut bertemu Direktur Perencanaan Jasa dan Kawasan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nurul Ichwan.

"Mereka menyatakan sedang membidik Batang, Jawa Tengah sebagai destinasi investasi di bidang perkayuan dan furnitur," ujar anggota Komite Investasi Bidang Komunikasi dan Informasi Rizal Calvary Marimbo di Beijing, China, dalam keterangannya resminya, Kamis (21/11/2019).

Ratusan pengusaha tersebut juga tengah mempertimbangkan pembangunan kawasan industri furnitur di Kalimantan Timur (Kaltim). Meski ketersediaan sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur di Jateng lebih memadai, namun harga lahan di Kaltim lebih murah. Selain itu, Kaltim juga dinilai juga memiliki kayu hutan yang melimpah. 

"Hanya saja, Jawa Tengah unggul di ketersediaan sumber daya manusianya dan infrastruktur penunjang lainnya," jelas Rizal.

Rizal memaparkan, bila sukses di Jateng, para pengusaha Shandong juga mengincar membangun kawasan industri furnitur di empat pulau lainnya seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. 

"Mungkin dia test case-nya di Jateng. Sukses di sana, mereka akan ekspansi ke pulau-pulau lainnya, membangun kawasan industri," ujar Rizal.

Sebelumnya, para pengusaha ini juga telah menemui Bupati Batang, Wihaji. Di Batang, para pengusaha Shandong ini melihat potensi kayu dari hutan kawasan industri yang melimpah. Sehingga dianggap cocok untuk menghasilkan produk berorientasi ekspor.

Namun, hingga saat ini ratusan pengusaha tersebut masih membandingkan potensi investasi di Indonesia dengan Vietnam, Kamboja dan negara Indochina lainnya. Sebab, negara-negara tersebut menawarkan lahan gratis. Sejauh ini, nilai lebih yang dinyatakan para pengusaha tersebut atas Indonesia yakni pasokan kayu yang lebih berkualitas.

"Mereka lihat kayunya di Indonesia jauh lebih bagus," pungkas Rizal. kbc10

Bagikan artikel ini: